Pigs is Pigs
by Ellis Parker Butler


After a long break, there was a cart passing by him slowly. The blond boy, suddenly, got up and followed that cart. Unfortunately, when they reached a forest in the south, he missed the cart. However, he tried to find it by going along the cart stamp on the ground.
“I though I could ask them for direction. Hmm,
That boy opened his small bag and took a dull map. “Now, I guess, I am almost in
“Aaaaaaaaaaaa!”
He heard a screaming near him. “What the hell of that!” He stood up and searching for where the screaming came from. He was surprised by the three giant flying bees attacking a girl wearing an antique dress.
“Help me! Help me!,” shout the dwarf girl. She held a wand that has a blue small crystal ball on the top.
The boy got his bag and took a small pouch. “Magic Pouch! Physical Bow!” suddenly, he held a bow that came out from that pouch. One of the three giant bees addressed him by shooting its sting in turn.
“Shit! I cannot release my arrow if it attacks me by this way. I should make a plan”, he run to hide behind the trees. “Nice. I knew it.”
The giant bees kept searching for the boy by going around the area while the others are trying to capture the dwarf. The girls kept screaming. The boy directly jumped over the flying bee and stand on it. “Paralyzed Arrow!” as he released the arrow right to its head, that bee was paralyzed. He, then, hit the other one. “Paralyzed Arrow!” when he was trying to shoot the last bee from up the bee body he firstly shot, suddenly, an amount of giant bees gathered in that area.
“Oh my . . .!” He kept standing and still holding the bow.
Unpredictable, two giant bees attacked him from behind and released the poison bee stings. The boy had no chance to avoid them. The stings became closer to the boy. He just had no way to run. The stings hit the boy’s bodies.
“Shhhhield!”
In the right time, an elastic shield covered the boy bodies and bounced to the ground closer to the dwarf girl. The giant bees chased the boy by releasing the stings to the bounced shield but had no effect.
“A . . . a . . . are you a . . . alright?” asked her.
The boy was amazed, “How. . . you . . . bah! Why don’t you use your magic since the beginning?” speaking rudely.
“”I am sorry. I am just a novice. So I cannot spell it once.” Confessed the girl.
“Oh, I see. Now . . .” before completing his words, the bees releasing a great amount of poison stings to them.
“Shield!” They were covered by the bubble shield, “Wait a minute. It looks like unordinary poison stings.” Guessed the girl.
“What do you mean?”
“Look! When our shield bounced the poison stings attack, the poison lubricant spilled the surrounding us and melt the ground, trees, and any things affected by it. It never happened with another poison sting. The only I think is that this poison contain dense high acid. And I assume that it is only produced by the Queen of The Giant Bee. I guess so.”
The boy just looked at the dwarf girl suspiciously, “You are a novice magician or a sage, aren’t you?”
While they were discussing, smaller poison bee stings almost hit the shield. “First shield, Ground Ring!” A transparent shield of ground protected them. Smaller and normal bee stings hit the shield on and on. The shield seemed to be broken.
“We are finished”, said the boy.
They heard a strange voice. “For the eternity of the air, for the mortal ocean, the living earth are the glory of the universe, I summon the ancient beast “Flying Turtle”. And the weather changed. The sky were going to be black covered by the dark clouds. The air breezed strongly. The rain fall down on the earth and a giant turtle with a pair of phoenix wing were flying above them.
“What!” the boy pointed out it, “Who is he? He is a human. I never know that human could be a summoner.”
That giant turtle opened his mouth. There is a man standing on her shell. He had also a pair of wing. “Fire Blast!” then, the turtle blast fire from its mouth and swing its wings that makes fire become rudeness and directly hit the bees and the Queen. “We made it.”
The fog is surrounding the area hitting by the attack. That man and his giant turtle go down from the sky. But, before reaching the ground, the Queen came out from the fog heading to the giant flying turtle. It stopped on the air and lunched one huge sting from its tail and two stings from its hands.
To be continued . . .
M. Sayid Wijaya
Jika anda melewati jalan Pamungkas, ada sekitar
Rumah tersebut adalah rumah dimana aku tinggal bersama seorang adik yang berumur
Bapak dan ibu selalu bepergian. Seringkali mereka meninggalkan kami selama beberapa bulan. Aku sangat senang jika mereka bepergian. Ketika pulang ke rumah, bapak dan ibu pasti membawa oleh – oleh untuk kami. Bapak sering membelikanku buku – buku yang aku sendiri malas untuk membacanya. Bagaimana tidak, buku yang dibelikan bapak selalu tebal. Aku tidak pernah selesai membacanya. Karena aku sangat sibuk sekali.
Aku harus pergi ke sekolah di pagi hari. Sedangkan siangnya, aku bermain di lapangan desa bersama teman – temanku. Kadang kami bermain bola, hitungan sumput, gobak sodor atau taplak meja. Dan di saat senja baru aku akan pulang ke rumah. Setelah sholat maghrib, ibu menyuruh ku mengaji di langgar hingga sholat isya’ tiba. Setelah makan malam, aku pasti tertidur karena kelelahan bermain seharian. Jadi, tidak ada waktu untuk membaca buku – buku tebal itu.
Ayah dan ibu sekarang sedang bepergian ke
Sekarang, aku akan pergi duluan ke kebun. Biar nanti mbok Mar pergi bersama adikku yang cengeng itu. Jika aku tidak pergi duluan pasti mbok Mar menyuruhku membawa ember dan golok.
###
Pohon – pohon singkong di kebun ku sudah tinggi. Jikalau dibandingkan dengan mbok Mar, kira – kira tiga jengkal lagi baru bisa menyaingi pohon singkong itu. Hal yang wajar, karena mbok Mar sekarang sudah berumur dan punggungnya agak sedikit bongkok.
Tidak hanya umbi – umbian yang ada di kebunku. Di sebelahnya ada juga kandang ayam. Ayam kampung. Ibu ku yang membelikannya. Katanya, ibu membelikan sepasang ayam kampung ini agar aku mengetahui bagaimana cara merawat diri, padahal bukan diriku yang dirawat melainkan sepasang ayam. Kadang aku berpikir bahwa ibu memang aneh.
“Cah gembleng” mbok Mar datang dari pintu belakang rumah dan membawa sebuah ember hitam yang di dalamnya ada sebuah golok. Seperti biasa, ia selalu mengenakan jarik dan berpakaian adat jawa. Layaknya artis – artis di televisi yang sering aku tonton.
“Adik mu ditinggal ember dan golok tidak di bawa.”
“Kelalen mbok.”
“Jidatmu iku seng kelalen” serambi meletakkan ember di dekat kandang ayam. “Isi air.”
Jika embok sedang marah, aku selalu diam tidak bicara. Jika tidak, mbok pasti berkoar lama. Mulutnya komat – kamit dan aku kadang tidak mengerti apa yang di katakannya. Jangan – jangan mbok Mar terkena guna – guna. Atau memang begitu orang yang sudah berumur seperti mbok Mar. Sepertinya aku tidak ingin menjadi tua. Sering ngomel dan tidak punya teman bermain. Memang aku tidak pernah melihat mbok Mar bermain bersama teman. Apalagi bermain layaknya aku. Apa memang mbok Mar tidak tahu caranya bermain hitungan sumput atau gobak sodor? Mungkin suatu saat aku harus mengajarkannya bermain supaya tidak terlalu sering marah.
Mengambil air adalah tugasku. Mbok Mar tidak akan memberikan singkong bakar kepada ku jika aku tidak mengambil air. Sumurnya ada di dalam rumah di samping dapur. Untung saja sumur di rumahku ada katrolnya. Aku tidak akan keberatan menimba air. Tidak seperti di rumah Dodi yang tidak memakai katrol. Tetapi rumah besar di ujung jalan menggunakan pompa air. Dengan hanya memindahkan sakral, airnya sudah melimpah keluar. Jadi, tidak perlu mengeluarkan tenaga seperti aku.
“Mbok, ini airnya. Mau dipakai untuk apa?”
“Nyiram tanah supaya nyabut singkongnya gampang”
“Kok tidak menggunakan golok saja, mbok?”
Mbok Mar hanya diam saja. Dia memulai menyirami tanah di sekitar pohon singkong. “Dicabut dulu lalu di potong nganggo golok” berhenti sejenak lalu melihat kearahku. “Piye?”
Aku hanya mengangguk saja. Masalahnya aku tidak terbiasa mencabut singkong. Mbok Mar yang selalu melakukannya dan dia mengerjakannya sudah berpuluh tahun dan pastinya sudah ahli.
Mbok Mar mulai mencabut singkong. Urat – urat yang menonjol di tangannya seperti kabel – kabel di kamarku. Dan ia mencabutnya dengan cepat. Satu pohon sudah dicabut. Di bawahnya ada tiga buah singkong besar dan bertanah. Kemudian mbok Mar menuju ke pohon sebelahnya. Sedangkan adikku sibuk mengganggu sepasang ayam yang sedang berkencan di dalam kandangnya. Ia mengusili ayam dengan menggunakan lidi sehingga ayam – ayam itu berteriak kegelian. Tiba – tiba, mbok Mar sudah mencabut pohon singkong yang kedua dan memisahkannya dari batangnnya.
“Uwes mbok?” aku berlari ke arahnya dan kemudian diikuti adikku yang sepertinya terlihat bosan menjahili ayamku. Namun, mbok Mar hanya terdiam saja dan membersihkan singkong – singkong itu dari tanah dan memasukkanya kedalam ember yang berisi air. “Ambil korek di dapur, nduk!” Lalu adikku segera berlari ke dapur untuk mengambil korek.
“Mbok, koreknya di mana?” adik ku berteriak dari dapur.
“Em-bok, koreknya di mana?” berdiri di depan pintu dan menampakkan wajah lugunya.
“Di bawah kompor” mbok Mar menjawab pelan. Lalu adikku kembali ke dapur. Tidak lama kemudian ia berlari dengan cepat ke arah kami
“Iki mbok” duduk mendekat dan menjulurkan korek yang berada di tangannya.
“Dipegang dulu ya nduk.”
Adik ku hanya mengangguk dan menarik kembali tangannya. Kami berdua hanya terdiam memperhatikan mbok yang sibuk dengan singkong – singkongnya. Sesekali adik ku menggerakkan badannya ke belakang dan ke depan. Sedangkan aku meletakkan sandal yang ku pakai di bawah pantat ku untuk di duduki.
###
Adikku mencelupkan tangannya kedalam ember yang berisi air dan menghitung satu persatu singkong yang ada di dalamnya. “Enam.” Ia berhenti menghitung singkong di dalam ember. “Aku dapet dua, mas Bedu dapet dua dan mbok Mar juga dapet dua” sembari tersenyum kecil. “Adil dong.”
Lalu mbok Mar memasukkan singkong terakhir kedalam ember. Wajah adik ku terlihat kecewa karena jumlah singkongnya bukan enam, melainkan tujuh.
“Loh, kok nambah satu lagi mbok. Padahalkan sudah pas kalau di bagi” mengeluh dengan nada kecewa.
“Tapi ndak popo. Singkong itu nanti di bagi aja. Aku setengah, mas Bedu setengah dan mbok setengah.”
“Ya sudah” jawab mbok.
“Yakin!” aku sedikit menyela.
Adik ku terdiam sejenak. Mbok Mar bangun dan membawa ember air yang berisi singkong. Adik ku menarik – narik baju mbok Mar. “Mbok, singkong yang terakhir buat bapak sama ibu saja ya.”
“Ia” mbok Mar menjawab singkat.
###
Sampah – sampah sudah terkumpul dan kami siap membakar singkongnya. Mbok Mar mengeluarkan singkong – singkong dari dalam ember dan kemudian diletakkan di tengah tumpukan sampah.
“Singkong singkong, singkong singkong” adik ku bersorak kegirangan. “Kalau singkong nya sudah ada yang matang, buat aku duluan.”
“Enak aja” aku menyela dengan nada mengejek.
“Aku duluan ya mbok” serambi menjulurkan lidahnya. Mbok Mar hanya mengangguk. Tiba – tiba suara
“Wah, mau hujan nih.”
“Mbok mau hujan” adikku merengek.
Mbok Mar mengadahkan kepalanya ke atas, “Oh, iya”.
Dan tiba – tiba air hujan mengguyur kami. Aku berlari ke teras belakang. Sedangkan adik ku tetap berdiri di tempatnya. Lalu ia melompat – lompat menyambut turunnya hujan. Sedangkan mbok Mar sibuk mengacak – ngacak dan mengais sampah dan mengumpulkan kembali singkong – singkong ke dalam ember . Mereka segera menyusulku ke teras belakang.
“Mbok, singkong bakarnya enggak jadi ya?” sembari menggaruk kepalanya dengan ujung jari telunjuknya.
“Enggak jadi dong” aku mengambil handuk yang tergantung di dekat pintu kamar mandi.
“Rugi nih, mbok” adikku merengek.
“Ya sudah. Nanti embok buat jadi singkong goreng aja ya!” mbok Mar tersenyum kecil.
“Yah, singkong goreng lagi nih.”
“Ha, ha , ha” aku dan mbok Mar hanya tertawa.
*pernah dikirim untuk dipublikasikan di makalah KROnIKa, namun tidak lulus editing dikarenakan tidak menyajikan permasalahan dalam alur.
Have you ever thought that you wanna end up your life soon, because of too many troubles surrounding you? You don’t grow up yet to solve them. Family, friendship, love, and identity are the common problems that usually occur to the teens. In fact, those who are able to resolve the problems will act and decide everything wisely.
Have you ever heard John Legend song “Ordinary People”? (Actually, I don’t find out the text yet). I like him. He sings it well. “Ordinary People” is not the song which tells about a group of person who has a great power and ability. X-Men, Power Rangers?? No way. I guess (it is only my opinion) the song refers to the people who are regarded ‘strange’ because they are different. Action, performance, ability (it is not the same ability as super heroes have), behavior, and physical defect become the reason why the other people make a distance from them. How could it be?! And do you know what? That is me.
My name is Sayid. I’m nineteen years old. I’m one of the teens who were told in the paragraph above. I’m just ordinary person who realizes that I can’t live leisurely. Because what? Because I am a strange boy.
I was fed up with my own life since I knew that I was a looser few years ago. I just followed where the flow went and saw the world from inside the cage. I didn’t realize that the decision I had made, at that time, was really a mistake. I decided to fulfill what my … (I don’t want to tell you who. It seems that I blame him/her/it, but it was really my mistake) wanted. I tried not to force. I just received it. And I was disappointed.
It is not a big deal for me now. I keep trying to repair my defect. And I really don’t care what people think about me. The changes I’ve made and what I do along the day are my own business. They have no right to criticize me. I am the doer. I create the new me. They may do what they want as long as it doesn’t harm me and so may
As human, I can’t keep a stack of my worries and anxieties alone. I share them with my really truly best and closest friend. He lives in Teluk Betung and has been working since few months ago in TPI (Tempat Pelelangan Ikan). We always share everything and I really miss him now. He is the only friend who understands the detail of me. If I am gonna go to Tanjung Karang, I will ask him to accompany me and go around or visit some places like what we did when we’re in the dormitory. Getting stress in the dormitory, we would go to some places and returned at
At last (I don’t tell all yet), I just wanna state that I have no ambition (I guess, but I don’t know). Living leisurely is not an ambition. It is just a denial (actually, I don’t think so). As Anna Akhmatova told us in his poet:
I Taught Myself to Live Simply by Anna Akhmatova
I taught myself to live simply and wisely,
to look at the sky and pray to God,
and to wander long before evening
to tire my superfluous worries.
When the burdocks rustle in the ravine
and the yellow-red rowanberry cluster droops
I compose happy verses
about life's decay, decay and beauty.
I come back. The fluffy cat
licks my palm, purrs so sweetly
and the fire flares bright
on the saw-mill turret by the lake.
Only the cry of a stork landing on the roof
occasionally breaks the silence.
If you knock on my door
I may not even hear.
http://famouspoetsandpoems.com/poets/anna_akhmatova/poems/31