Tampilkan postingan dengan label Short Stories. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Short Stories. Tampilkan semua postingan

Mei 31, 2012

Pigs is Pigs


from American Magazine
Pigs is Pigs
by Ellis Parker Butler
Pigs is Pigs by Ellis Parker Butler
Mike Flannery, the Westcote agent of the Interurban Express Company, leaned over the counter of the express office and shook his fist. Mr. Morehouse, angry and red, stood on the other side of the counter, trembling with rage. The argument had been long and heated, and at last Mr. Morehouse had talked himself speechless. The cause of the trouble stood on the counter between the two men. It was a soap box across the top of which were nailed a number of strips, forming a rough but serviceable cage. In it two spotted guinea-pigs were greedily eating lettuce leaves.

Mei 21, 2010

Shopping for a Husband

A store that sells husbands has just opened where a woman may go to choose a husband from among many men. The store is composed of 6 floors, and the men increase in positive attributes as the shopper ascends the flights.

There is, however, a catch. As you open the door to any floor you may choose a man from that floor, but if you go up a floor, you cannot go back down except to exit the building.

So a woman goes to the shopping center to find a husband.

On the first floor the sign on the door reads:

Floor 1 - These men have jobs.

The woman reads the sign and says to herself, "Well, that's better than my last boyfriend, but I wonder what's further up?" So up she goes.

The second floor sign reads:

Floor 2 - These men have jobs and love kids.

The woman remarks to herself, "That's great, but I wonder what's further up?" And up she goes again.

The third floor sign reads:

Floor 3 - These men have jobs, love kids and are extremely good looking.

"Hmmm, better" she says. "But I wonder what's upstairs?"

The fourth floor sign reads:

Floor 4 - These men have jobs, love kids, are extremely good looking and help with the housework.

"Wow!" exclaims the woman, "very tempting. BUT, there must be more further up!" And again she heads up another flight.

The fifth floor sign reads:

Floor 5 - These men have jobs, love kids, are extremely good looking, help with the housework and have a strong romantic streak.

"Oh, mercy me! But just think... what must be awaiting me further on?" So up to the sixth floor she goes.

The sixth floor sign reads:

Floor 6 - You are visitor 6,875,953,012 to this floor. There are no men on this floor. This floor exists solely as proof that women are impossible to please.

http://www.thejokeyard.com/sexist_jokes/shopping_for_a_husband.html

Maret 14, 2010

Cerpen PPL

SUWI

(Sebuah Cerpen: “CINLOK”)

PEMERAN:
 ABDULLAH MUNDI
 ARIANTO SHODIQ
 IMAM WIDARYANTO
 JOKO MAYANG SANJANA
 MUHAMMAD MISRIYANTO
 SABRINA SURURIANTI
 SAIFULATIL HASANAH
 SAYIDATUL MUBAROKAH



Pada suatu hari, Ari, Misriyanti dan Mundi duduk di meja paling belakang perpustakaan. Ari dan Misriyanti duduk berdampingan, sedangkan Mundi duduk berhadapan dengan mereka. Mereka bertiga sedang asyik-asyiknya membaca buku masing-masing. Ari memecah suasana.
“Eh….., Mis”, sembari meletakkan buku yang ia pegang. “Tau gak?”
“Gak”, balas Misriyanti dengan nada mengejek.
“Iiihhh……, dengerin dulu. Mis……”, menggoyangkan tubuh Misriyanti dan meraih paksa buku yang sedang ia pegang.
Dengan malas Misriyanti menjawab,”Eneng opo to, Ri?”
“Ndisek to, Mis. Eneng gossip yang HOT, HOT, HOT banget deh. Mis enggak bakal nyesel deh. It is abour our friends. Ngono loh”.
Berusaha meyakinkan Misriyanti, Ari mengambil secarik kertas yang tepat berada di depannya dan mengambil sebuah pena dari kotak pinsilnya. Dia nampaknya sedang menulis sesuatu. Perlahan dia meletakkan pena tersebut dan memberikan kertas yang baru saja ia tulis sesuatu kepada Misriyanti.
Misriyanti meraih kertas tersebut dan membacanya. Dia menggumam. Dia agaknya terkejut. Dia menyodorkan kertas itu kepada Ari dan menunjuk pada dua nama yang tertulis di atasnya.
“Sur-sur sama Widar??” melirik ke arah Ari.
Ari mengisyaratkan telunjuknya tepat di depan ke dua bibirnya, “Tsuttt… . Jangan keras-keras. Nanti kedengeran tuh ama Sur-sur”, sembari melirik ke arah Sururi yang duduk dua meja ke depan di seberang mereka.
Ari melanjutkan, “Ia tuh, aku pernah ngeliat mereka jalan bareng. Ya gak pegangan tangan sih. Bukan muhrim. Tapikan, agak beda loh aku ngeliatnya.”
Misriyanti memandang ragu ke arah Ari, “Sing tenan, loh Ri?!”
“Iihhh…., tenanan, Mis”, sedikit merengek.
Mundi yang sedari tadi tidak sengaja menyimak percakapan mereka angkat bicara, “Eneng opo to ndok? Ribut aja dari tadi. Lagi ngomongin orang lain atau lagi pada gosip? Pamali tahu! Pamali”.
Ari membela diri, “Bukan gitu loh, Mun. Ini fakta. FAK-TA”, perlahan menurunkan suaranya.
“Tapi aku belum percaya, Mun”, Misriyanti menambahi.
“Kok gitu sih, Mis”, sedikit kecewa.
“Ya gimana lagi loh, Ri. Kan …..”
Mundi menyela, “Eh……, uwes, uwes, uwes. Begini saja, aku punya ide nih. Gimana kalau kita selidiki saja apakah benar atau tidak apa yang Ari katakan barusan?”
“Boleh”, jawab Ari dan Misriyanti serentak.
“Tapi”, Mundi meyakinkan, “Kalau misalkan, seandainya, jikalau dan apabila nantinya apa yang saudara Ari Ulfa katakan adalah ghoiru shahih alias tidak benar, kepada saudara Ari Ulfa dipersilahkan meminta maaf kepada Sururi dan Widaryanti. Wajib hukumnya”, seolah berperan sebagai hakim dipersidangan. Ari dan Misriyanti tersenyum geli.
“Aku setuju”, sahut Misriyanti.
Dengan sebalnya Ari menanggapi, “Iihh…., Mis kok gitu lagi sih. Tapi ya sudahlah, demi yang aku lihat pas waktu itu, aku maju. Maju tak gentar”.
“Terus gimana?” Misriyanti memandang Mundi.
“Begini rencananya ………..”.
Kemudian mereka bertiga mulai berdiskusi membahas rencana yang akan mereka laksanakan. Misriyanti sibuk mencatat apa yang Mundi katakan. Ari memberikan masukan ide-ide kepada Mundi. Mereka terlihat berdiskusi seperti biasanya. Tidak mencolok. Tidak mengundang perhatian teman-temannya yang lain. Sedangkan Sururi tetap sibuk dengan kertas-kertas folio bergarisnya menulis RPP yang nampaknya akan segera ia gunakan.
Bell berbunyi dua kali. Peserta PPL pun berkumpul kembali di perpustakaan dan bersiap untuk pulang. Ari, Misriyanti dan Mundi berjalan bersamaan di belakang teman-temanya ke tempat parkir.
“Besok harus siap. Oke!” bisik Mundi.
“Yoi”, jawab Ari dan Misriyanti penuh semangat.
Akhirnya mereka berpisah di tempat parkir. Mengambil motor mereka dan kembali ke tempat asal masing-masing. Satu hari pun berlalu.

###

Keesokan harinya, Widaryanti yang setiap hari datang lebih awal dari teman-temanya memarkirkan SupraFit-nya di sebelah pohon Flamboyan tepat di belakang gedung UKS. Hari ini dia mengenakan batik coklatnya.
“Pagi, bu”, sapa dua orang siswi yang melintas.
“Pagi”, jawab Widaryanti sembari membuka kaca helem dan melepaskan helem itu dari kepalanya. Ia meletakkannya di atas kaca spion sebelah kanan, mengambil tas jinjing kecoklatan dan akan segera menuju ke perpustakaan sebelum Sururi memarikirkan motor tepat di sebelahnya. Sayid yang dibonceng Sururi turun.
“Pagi, ibu guru. Hari ini kayaknya makin OKE aja yah??!” ejek Sayid.
Widaryanti menyaut dengan jaim, “Oh…ye?!!”, melangkah meninggalkan Sururi dan Sayid yang baru saja tiba.
Sururi mematikan mesin motor, menyerahkan kuncinya pada Sayid, dan mereka berdua bersegera menuju perpustakaan.
“Eh….., Sur. Nanti kamu tanyakan ya sama dia prihal yang pas waktu itu loh. Kalau lama-lama aku jadi enggak enak. Kalau kamu yang bilang mungkin beda dia nanggapinya nanti. Kaliankan sudah kenal sejak lama.”
Mereka berdua yang sedang berjalan di bangsal ruang guru berhenti. Sururi menundukkan kepala, mengangkatnya kembali dan melihat ke arah Sayid.
“Tapi ya aku ndak enak juga.”
“Ayolah, Sur?!!”
“Tapi cuma nyampein aja ya?”
“Ia. Thanks ya kalau begitu.”
Mereka meneruskan perjalanan ke perpustakaan. Terlihat Widaryanti sedang membuka pintu dan masuk ke dalam perpustakaan. Mereka berduapun menyusul masuk.
Tidak berapa lama, Mayang, Misri dan Mundi datang. Mereka meletakkan tas mereka di meja. Seperti biasa, Mayang duduk di meja paling depan menghadap ke belakang, sedangkan Misriyanti dan Mundi duduk berlawanan dari Mayang.
Mayang menghampiri Widaryanti. “Eh….., Wid. Sudah dateng nih”, sembari ber-cikipa cekipi disusul dengan Misriyanti dan Mundi.
“Hari ini ada kelas enggak, Wid?” tanya misriyanti.
“Nanti jam ke 5-6 habis istirahat di X6.”
Mundi menyela, “Nduk, Ari belum dateng ya?”
“Ari?? Jangan ditanya. Ha…ha…ha…”, ejek Sayid.
“Maksudnya???” Ari yang tiba-tiba datang membuat teman-temanya mengalihkan pandangan ke arahnya. Ia meletakkan tasnya di tumpukan tas-tas di meja, mengambil beberapa file dan sebuah buku. Kemudian melangkah keluar dari perpustakaan.
“Hayoloh, Yid!?!” Mayang mengompori.
Misriyanti lebih mengompori. “Hayoloh, Sayid. Hayoloh Sayid!”
Saiful datang. ”Ada apa ini?! Ada apa?!” bersuara dengan gayanya yang khas dan melaju ke tempat duduknya di meja kedua.
“Sur, hari ini giliranmu kan ngajar di kelas X4?? Kalau enggak salah sih jam ke 5-6”, Saiful meyakinkan.
“Ia”, jawab Surui singkat.
“Nah, kalau gitu aku titip pesen ya. Minggu kemaren kan aku ngasih tugas, tapi mereka enggak selesai ngerjainnya. Jadi mereka nyelesaiannya di rumah.”
“Trusss??”
“Ya, sampaikan ke ketua kelasnya kalau tugas mereka dikumpul hari ini. Aku tunggu sampai jam 12.”
“Ya”.

###

Bel bersautan dua kali. Siswa-siswi yang sedang beristirahat kembali masuk ke kelas untuk mengikuti pelajaran selanjutnya. Sururi dan Widaryanti yang akan mengajar di kelas yang berdekatan berjalan bersamaan menuju kelas. Mereka menelusuri jalan setapak. Misriyanti terlihat mengawasi mereka dari depan pintu perpustakaan. Ia melirik Ari dan mengedipkan mata sebelah kirinya memberi tanda. Ari yang sedang duduk di sofa di sebelah meja computer bangun dan menghampiri Mayang.
“May, aku pinjem dulu kameranya.”
“Untuk apa , Ri?”, tanya Mayang penasaran.
“Enggak, mau ngambil gambar aja. Di mana kameranya?”
“Tuh, di tas. Jangan lupa ambil gambar gapura SMAN3 untuk dokumentasi. Pokoknya apa aja yang bisa jadi dokumentasi”, ketus mayang yang sedang mengetik sesuatu di Notebook-nya.
Ari menggeledah isi tas kecil di sebelah Mayang dan mengambil kamera. Menghidupkannya dan mencoba mengambil gambar Mayang yang sedang duduk bersampingan dengan Saiful. Merek nampak sedang mengerjakan tugas.
“Ckreek”.
Ari mematikan kamera. “Siip”. Kemudian ia mendekati Misriyanti dan membisikinya, “Sekarang giliranku.” Ia melangkah keluar dengan pasti.
Misriyanti yang sedari tadi berdiri di depan pintu perpustakaan berpindah untuk duduk di sofa.
Saiful yang sedang membaca kertas yang dipegangnya sedikit mengeluh kepada Mayang. “Apa ini maksudnya? Sekolah kok diisi nama.”
“Mana?” balas Mayang penasaran.
Saiful emosi, “Ni… Sekolah: Widaryanti. Apa ini?? Emang Widaryanti sudah buat sekolah sendiri. Ahh.”
“Mungkin dia khilaf.”
“Ia”, sambung Mundi yang duduk berhadapan dengan mereka. “Al insanu makanul khoto’ wa nisyan. Manusia itu tempatnya salah dan lupeee.”
“Iaaaa”, Saiful menjawab panjang.
Jarum jam berputar cepat. Tak dirasakan tinggal lima menit lagi sebelum jam ke 6 berakhir. Saiful dan Mayang tetap duduk di bangku panas mereka mengerjakan tugas yang belum selesai. Saiful terlihat tidak merasa nyaman lagi dengan posisi duduknya. Beberapa kali ia mencoba mengubah posisi. Tetap saja, ia terlihat tidak nyaman.
“May”, Saiful berdiri, “Aku udahan ya dekteinnya. Bokongku dah mateng nih kelamaan duduk di kursi.”
“Wah, dikit lagi nih”, pinta Mayang.
“Mundi aja ya yang nerusin. Aku mau ke kamar kecil dulu. Mund…..”
Sebelum Saiful sempat memanggil Mundi, tiba-tiba bunyi SMS dari HP Mundi menyaut. “Tulalit. Tulalit.” Mundi meraih HP-nya dan membaca SMS yang baru saja masuk. Ia sedikit terperangah.
“Wah, Ful. Aku enggak bisa gantiin. Aku mau ke kantin dulu. Oke!” sebelum ia menuju ke kantin, ia berbisik kepada Misriyanti. “Giliranku yang maju.” Lalu ia melaju ke kantin dengan cepat.
Sayid yang duduk di meja depan di samping meja Mayang dan Saiful mengerutkan dahinya. Kedua bola matanya yang dilapisi kaca mata itu menatap curiga. Ia merasa ada keanehan yang terjadi semenjak pagi. Dengan berirama ia memanggil Misriyanti.
“Miiiisriyantiiiii”.
Misriyanti menyahut, “Apa toh Say??”
“Ari kok enggak kelihatan ya?”
“Yo di SMS aja loh Say.”
“Oh, kirain Mis tahu. Kalau Mundi kemana tadi?”
“Kurang tahu juga loh Say.”
“Okelah kalau begitu.”
Dengan cepat Sayid mengambil HP yang terletak di depannya dan mulai memainkan jarinya diatas tombol-tombol berhuruf entah sedang mengetik apa. Dan bell istirahat ke dua pun berbunyi.

###

Widaryanti sedang berdiri di depan madding X4 layaknya sedang menunggu seseorang. Ya, ternyata dia memang sedang menunggu. Sururi yang baru saja keluar dari kelas menghampirinya.
“Gimana, Wid?” sembari membetulkan posisi pecinya.
“Yoo, sampean yang gimana?” balas Widaryanti ketus.
“Ya yang aku SMS tadi malem itu. Apa aku harus bilang lagi nih??” Sururi merayu.
“Hmmm. Gimana ya? Tak piker-piker dulu aja ya? Aku lagi males ngomongnya.”
“Ya segeralah. Meski menunggu adalah perbuatan mulia, tapi ya jangan kelamaan. Selepas sholat dzuhur ini saja ya. Biar fresh fikirannya.”
“Gimana ya, Sur?” Widaryanti menunduk.
Sururi pun terdiam untuk beberapa saat. Menata ulang tumpukan buku yang sedang ia bawa. Menghela nafas. Kemudian memanggil Widaryanti pelan.
“Wid.”
“Hm.”
“Aku ndak maksa sampean mau jawab kapan. Sing penting dijawab aja”, tegas Sururi.
“Ia. Aku paham kok.”
“Ayo jalan,” ajak Sururi.
Beberapa orang murid yang sedang duduk di pinggir gorong-gorong X5 memperhatikan mereka berdua dengan seriusnya. Dan tetap, ketika Sururi dan Widaryanti melewati kelas tersebut, anak-anak laki itu memperhatikan mereka tajam. Namun, perhatian Widaryanti teralihkan pada dua orang sosok wanita yang duduk di kantin paling pojok. Ari dan Mundi. Mereka Nampak sedang bercanda. Tapi tetap, Widaryanti tidak mengindahkan mereka. Ia tetap berjalan sedikit ke depan dari Sururi, menjaga jarak supaya tidak ada kecurigaan akan mereka hingga mereka bersua dengan Sayid di depan ruang BK.
Sayid mendekati telinga kanan Sururi, “Seperti yang aku SMS tadi, Sur. Oke!”
Sururi mengangguk paham. Melanjutkan langkahnya bersama dengan Widaryanti dan meninggalkan Sayid sendiri di depan ruang BK. Ia berhenti sejenak dan berbalik kebelakang. “Syukron, Yid.”
“Ya”. Dan terik matahari semakin menjadi. Adzan Dzuhur-pun telah berkumandang. Dengan diiringi bisingnya anak-anak yang sedang beristirahat, mereka tiba di perpustakaan.

###

“Sudah!” Saipul menengahi.
Terlihat mereka berkumpul di meja paling belakang perpustakaan. Ari, Misriyanti, dan Mundi duduk berjajar. Sedangkan Widaryanti dan Mayang duduk menghadap mereka bertiga. Saipul duduk sedikit menjauh dari Mayang.
Widaryanti terisak, “Tapi mbok jangan gitu caranya.” Dia menangis tersedu. Tak terlihat apakah air matanya benar-benar mengalir dari pelupuk matanya. Kedua tangannya menutupi wajah tembamnya. Mayang yang berada di samping kanan Widaryanti mengelus pundaknya.
“Coba dijelaskan detailnya. Jangan langsung men-judge orang gitu loh. Kalian juga mahasiswa. Berpikir dewasalah jangan kayak anak kecil yang masih ngempeng sama emaknya”, saran Mayang.
Mundi yang sedang memegang kertas mengerutkan dahinya. Ia nampaknya sedikit tersinggung dengan pernyataan Mayang. Kemudian ia membaca tulisan yang terpampang di kertas tersebut perlahan, “Dari Sururi”. Kemudian ia menatap Widaryanti dan Mayang. “Puas.”
“Eh, Mun”, Mayang mengangkat suaranya, “Biasa aja dung. Kalian nuduh yang enggak-enggak ke Widaryanti. Terus memaksa dia mengakui apa yang enggak dia lakukan. Memojokkan dia. Sekarang malah ngajak ribut. Apa mau kalian sih?”
“Bukan gitu May. Tapi kami cuma mau konfirmasi dari Widaryanti aja apa bener surat ini? Cuma itu. Enggak lebih”, Ari mencoba membela Mundi.
“Tapi bukan gitu caranya. Kalau dia sudah jawab ‘enggak’, ya ‘enggak’”, tegas Mayang.
Misriyanti yang sedari tadi hanya menjadi kambing congek mulai menunjukkan keberadaannya. “Ini, May. Lihat pake mata! Photo mereka. Sudah tahu ada bukti masih ngeyel juga sih.”
“Oh, ternyata. Kamera yang kamu pinjem tadi Cuma buat moto mereka berdua ya??? Licik. Sok mau jadi paparazzi . Enggak banget sih cara kalian”, wajahnya berekspresi jijik. Kemudian Mayang meraih kamera yang dipegang Misriyanti. “Sini!” pinta Mayang.
Agak lama Mayang melihat gambar-gambar yang ada pada kamera digitalnya. Raut mukanya terlihat sedikit keheranan. Ia terlihat tidak percaya atas apa yang ia lihat. Ia menghela nafas. Meletakkan kamera digitalnya tepat di depannya. Menajamkan kedua matanya ke arah mereka bertiga.
“Beneran, aku enggak habis fikir sama kalian bertiga.”
Sururi dan Sayid yang baru saja makan siang di kantin masuk ke dalam perpustakaan. Mereka masih terlihat bercanda sebelum akhirnya keempat mata Sayid menjangkau ke arah Widaryanti dan kawan-kawan hingga akhirnya mereka berdua sadar akan apa yang terjadi. Mereka berenam terdiam. Sayid mendekati Saipul dan meraih kursi di dekatnya. Ia duduk tepat di sebelah Saipul disusul Sururi yang akhirnya duduk di samping Mayang.
“Ada apa to ini?” tanya Sururi penasaran.
Semua tetap terdiam. Tidak ada yang berusaha menanggapi pertanyaan Sururi. Widaryanti yang masih menyembunyikan wajahnya dibelakang kedua tangannya tetap berisak. Mayang mengusap punggungnya mencoba menenangkan. Dengan wajah sinisnya, Ari hanya memutar kedua bola matanya ke atas ke bawah. Sedangkan Mundi hanya mengamati terus kertas yang dipegangnya. Misriyanti bermain dengan kuku indahnya. Semua diam tanpa kata. Bermain peran menjadi orang bisu. Mungkin. Tak ada suara hingga akhirnya Mayang membeberkan apa yang terjadi.
“Ambil kertas yang dipegang Mundi, Sur! Baca!”
“Eneng opo to?” kemudian Sururi mengambil kertas yang dipegang Mundi. Awalnya Mundi tidak melepaskan kertas yang ia pegang. Namun Sururi tetap memaksa dan memandang Mundi Tajam.
Sururi membaca perlahan. Kedua matanya menelusuri tiap kalimat yang tergores pada kertas tersebut mencoba memahami tiap kata yang ada. Raut wajahnya beberapa kali berubah ekspresi. Terkejut. Tidak percaya. Namun ia tetap membacanya hingga akhir.
Sururi menghela nafas, “Opo to iki?”
“Ya jangan gitu dong, Sur”, Ari menanggapi. “Ya yang kayak kamu baca. Bener enggak itu kamu yang nulis? Jangan pura-pura dong. Gitu aja kok repot.”
“Ia, Sur. Kasihan kan Widaryanti sampai nangis gitu. Kita cuma pengen tahu aja kok”, tambah Misriyanti.
Sururi terdiam. Ia terlihat merenung. Seolah sedang memikirkan jawaban yang tepat untuk pertanyaan tersebut.
“Sur, lihat kertasnya dong?!” pinta Sayid.
Sururi menyerahkan kertas yang sedang ia coba pahami kepada Sayid. Sayid mulai membaca. Ia terlihat tenang. Ia sama sekali nampak tidak terkejut dengan isi suratnya.
“Bodoh!” bentak Sayid keras.
Semua yang sedang terdiam terkejut atas apa yang baru saja mereka dengar. Mereka tersinggung.
“Maksudnya, Say?” Misriyanti marah.
“Jangan sembarangan dong!” sambut Mundi.
Sayid bangun dari duduknya melangkah menuju tas gendongnya yang terletak di meja kedua. Ia membuka reseleting tasnya dan mengambil sesuatu. Yah, itu adalah sebuah kertas. Kemudian ia menempati tempat duduknya kembali.
“Baca! Baca pake pikiran!” Sayid meninggikan suaranya.
“Loh”, Ari terkejut, “Ini kan sama isinya. Cuma beda pengirimnya. Lihat di bawahnya. Mayang.”
Misriyanti dan Mundi berebutan meraih kertas yang sedang dibaca Ari.
“Ia. Sama”, jawab Misriyanti dan Ari bersamaan.
Sayid menghela nafas perlahan. Ia mencoba menyimpulkan. “Aku rasa ada yang mencoba mempermainkan kita. Surat ini awalnya ada diselipan bukuku. Beberapa hari yang lalu, Saipul menemukannya. Dia langsung memberikannya kepadaku meskipun dia sudah membaca isinya terlebih dahulu. Aku memintanya untuk merahasiakan hal ini dari kalian karena aku tidak mau hal-hal aneh terjadi. Tapi mungkin prediksiku salah. Hal ini terjadi lagi. Sekarang menimpa Widaryanti dan Sururi. Dengan surat yang sama isinya. Aku jadi penasaran dengan pengirimnya.”
“Ya, benar yang dikatakan Sayid,” Saipul mencoba menambahi,” Makanya aku dari tadi diam.”
Dan kata-kata dari Saipul membuat mereka semua kembali terdiam. Dalam sunyi itu, Widaryanti menyingkirkan kedua tangannya dan mencoba berkata-kata meski masih terdengar isakan.
“Bukan aku! Bukan aku!”
Tangis Widaryanti semakin menjadi. Mayang yang berada di sampingnya pun ikut mengangis. Ia memeluk widaryanti. Ia memeluknya dengan erat.
“Aku tahu itu, Wid”, sembari Mayang menangis. “Aku tahu!”
Tak terbendung Ari, Misriyanti, dan Mundi ikut pula menangis. Mereka semua lalu berdiri dan berjalan menuju Widaryanti. Mereka memeluknya erat. Erat sekali.
“Maafin aku, Wid”
“Maaf, Wid!”
“Maaf”
Tangis mereka semakin menjadi-jadi. Mengubah ruang yang sepi menjadi ramai dengan isak tangis mereka. Mereka saling berpelukan, berbagi isak tangis, berbagi maaf dan berbagi perasaan mereka yang tercampur menjadi satu. Seolah tak satupun dari mereka menginginkan tangis mereka untuk reda.
Dalam tangis itu, Sayid mencoba untuk menenangkan mereka.
“Coba dengarkan puisi yang ada pada surat ini!”

DENTING

Jemari yang ku simpan tak pernah cukup
melantunkan denting-denting rasa berirama
dalam jerat-jerat pekat
aku pun terikat
ketika kau sulam tawa sebagai persahabatan
ketika kita meniti jalan setapak dari permasalahan
aku terjembab
aku terkait di kail yang kau umpan dalam sukmaku
aku pun tetap terjaga, dan
buih buih muncul dari serabut fikir kita
ketika itu
aku kan bertepi
aku kan berlabuh di pundakmu, meski
jemari yang ku simpan tak pernah cukup
melantunkan denting-denting rasa berirama.


“Aku enggak nyangka kalau yang ngerjain kita ternyata bisa buat puisi juga. Aneh”, Sayid mengomentari.
“Yoi”, jawab Saipul singkat.
“Haaaaa, haaaaa, haaaaaa”, mereka bertiga tertawa bersamaan meski para gadis sedang menangis.
Sururi memberi isyarat kepala, “Heh, Ayo keluar! Biar mereka puas dulu nangisnya.”
Mereka bertigapun melangkah keluar perpustakaan menginggalkan para gadis mengangis di dalam perpustakaan.

###

“Ayo, Pul, pulang!” ajak Sayid.
“Yang lain apa sudah pulang?”
“Dari tadi. Ini kita nungguin kamu ketiduran di Musholla. Ayo cepetan!”
“Cewek-cewek sudah pada pulang. Katanya mereka kecapean nangis”, sambung Sururi sembari mengenakan helemnya.
“Yo!” jawab Saipul singkat.
Saipul dan Sururi menghidupkan mesin motornya. Saipul melaju pertama dan disusul Sururi yang membonceng Sayid. Merekapun pulang meninggalkan pintu gerbang SMAN3. Dalam perjalanan, Sururi yang membonceng Sayid mengurangi laju kecepatan motornya.
“Yid??”
“Hmm.”
“Syukron jazilan, yo.”
“Afwan.”
“Trikmu ternyata berhasil juga.”
“Ehe, aku juga enggak nyangka bakal sukses begitu. Padahal dua surat itu aku yang buat,” sembari tertawa kecil. “Acting kalian berdua memang bagus. Untung aku cepet-cepet sms kalian dan surat cinta buat habibati masih ada di flashdisk. Tapi inget, Sur. Hubungannya dijaga. Sebagai makcomblang-mu, aku enggak rela kalian putus hubungan. Bisa-bisa popularitas ku bias turun. Ha, ha, ha.”
“Oke, boss!” jawab Sururi singkat.
Dan akhirnya satu hari yang penat dengan berbagai masalahpun berlalu begitu saja. Terbang terbawa angin. Menghilang dengan deruman suara motor di jalanan.
“SUWI. SUruri – WIdaryanti. Hi… Hi… Hi…”.

Oleh:
de_souza

Maret 07, 2010

English Corner

BATARA KALA

Batara kala was an evil giant. He always killed people, especially children. His hair was made from fire. Everybody was frightened of him.
One day, Batara guru, the chief god invited all the gods and goddesses to drink sacred water in Paradise. The water was called Tirta Amertasari. It means “The Water of Immortality”. You know why? Because anyone who drinks this water, he or she will live forever. He or she will never die.
You know what? Batara Kala was not invited because he was evil. Then, secretly, he flew into Paradise and stole some of the water. Batara Surya, the god of Sun and Batari Chandra, the goddess of Moon knew what he did. Immediately both of them reported to Batara Vishnu, the keeper god of the universe.
Then, Batara Vishnu took his fatal weapon, Cakra and shot it at Batara Kala.
While Batara Kala was drinking the water, the Cakra hit him on the neck. Batara Kala’s body was separated from the head at once. But, since he had drunk the sacred water, his head was alive. He was very furious with Batara Surya and Batari Chandra and swore to take revenge on them.
He chased Batara Surya and Batari Chandra could escape from Batara Kala’s throat because he no longer had a body. So, Batari Chandra and Batara Surya were safe everytime Batara Kala swallowed them up.
That’s why when there is a solar eclipse or lunar eclipse, Javanese people believe that Batara Kala is swallowing Batara Surya and Batari Chandra.

Questions:
1. Where does this myth come from?
2. What kind of text is this?
3. What did Batara Kala do when he was not invited to drink Tirta Amertasari?
4. What did Batara Suraya and Batari Chandra do when they knew what Batara did?
5. Does the story have a happy or sad ending? Why?

Januari 23, 2010

BEAUTY AND THE BEST

BEAUTY AND THE BEST

Lim : “I guess it is something we really hope. But it is not, Wean. I hate discussing this that you have never seen what the solution appears eventually.”
Wean : “Solution? We have never reached that point, Lim. You know it better than me. You do. And I’ve told you not to defense yourself until you really need it, until you have no words to deny.
Lim : “Defense?”
Wean : “Oh, Lim. C’mon.”
Lim : “Listen, Wean! Indeed I am the one who understands the way you think of something. Your egoism. Your stubbornness. Your cunning. Your provocation. Never do I let myself be in your seduction. Never do I let your trap capture my feet. Never.
Wean : “Oh my, you are so worried about this, aren’t you? It is funny that someone beautiful as you is wary of me. Where is your rightfully proud?”
Lim : “See! You aim at my proud. My rightfully proud. You are a maniac.”
Wean : “So shame. That was all non sense.”
Lim : “You are right. To believe the truth that the best student is you may evoke the sense of hatred. Ha ha ha. You are non sense.”
Wean : “At least I hardly feel the hatred of people on me.”
Lim : “You think so? You are the best jokester ever.
Wean : “Thanks for your praise, princess. Hope that you still remember when people named you ‘sleeping princess’. I am fully sure at that time that you very need a prince to make you awake. Or a frog?” ha ha ha.
Lim : “Is that so?
To be continued . . . . (I am blank)
M. Sayid Wijaya

Desember 22, 2009

PIGS IS PIGS

from American Magazine Pigs is Pigs by Ellis Parker Butler Mike Flannery, the Westcote agent of the Interurban Express Company, leaned over the counter of the express office and shook his fist. Mr. Morehouse, angry and red, stood on the other side of the counter, trembling with rage. The argument had been long and heated, and at last Mr. Morehouse had talked himself speechless. The cause of the trouble stood on the counter between the two men. It was a soap box across the top of which were nailed a number of strips, forming a rough but serviceable cage. In it two spotted guinea-pigs were greedily eating lettuce leaves. "Do as you loike, then!" shouted Flannery, "pay for thim an' take thim, or don't pay for thim and leave thim be. Rules is rules, Misther Morehouse, an' Mike Flannery's not goin' to be called down fer breakin' of thim." "But, you everlastingly stupid idiot!" shouted Mr. Morehouse, madly shaking a flimsy printed book beneath the agent's nose, "can't you read it here -- in your own plain printed rates? 'Pets, domestic, Franklin to Westcote, if properly boxed, twenty-five cents each.'" He threw the book on the counter in disgust. "What more do you want? Aren't they pets? Aren't they domestic? Aren't they properly boxed? What?" He turned and walked back and forth rapidly; frowning ferociously. Suddenly he turned to Flannery, and forcing his voice to an artificial calmness spoke slowly but with intense sarcasm. "Pets," he said, "P-e-t-s! Twenty-five cents each. There are two of them. One! Two! Two times twenty-five are fifty! Can you understand that? I offer you fifty cents." Flannery reached for the book. He ran his hand through the pages and stopped at page sixty-four. "An' I don't take fifty cints," he whispered in mockery. "Here's the rule for ut. 'Whin the agint be in anny doubt regardin' which of two rates applies to a shipmint, he shall charge the larger. The consign-ey may file a claim for the overcharge.' In this case, Misther Morehouse, I be in doubt. Pets thim animals may be, an' domestic they be, but pigs, I'm blame sure they do be, an' me rules says plain as the nose on yer face, 'Pigs, Franklin to Westcote, thirty cints each.' An' Mister Morehouse, by me arithmetical knowledge two times thurty comes to sixty cints." Mr. Morehouse shook his head savagely. "Nonsense!" he shouted, "confounded nonsense, I tell you! Why, you poor ignorant foreigner, that rule means common pigs, domestic pigs, not guinea-pigs!" Flannery was stubborn. "Pigs is pigs," he declared firmly. "Guinea-pigs, or dago pigs or Irish pigs is all the same to the Interurban Express Company an' to Mike Flannery. Th' nationality of the pig creates no differentiality in the rate, Misther Morehouse! 'Twould be the same was they Dutch pigs or Rooshun pigs. Mike Flannery," he added, "is here to tind to the expriss business an' not to hould conversation wid dago pigs in sivinteen languages fer to discover be they Chinese or Tipperary by birth an' nativity." Mr. Morehouse hesitated. He bit his lip and then flung out his arms wildly. "Very well!" he shouted, "you shall hear of this! Your president shall hear of this! It is an outrage! I have offered you fifty cents. You refuse it! Keep the pigs until you are ready to take the fifty cents, but, by George, sir, if one hair of those pigs' heads is harmed I will have the law on you!" He turned and stalked out, slamming the door. Flannery carefully lifted the soap box from the counter and placed it in a corner. He was not worried. He felt the peace that comes to a faithful servant who has done his duty and done it well. Mr. Morehouse went home raging. His boy, who had been awaiting the guinea-pigs, knew better than to ask him for them. He was a normal boy and therefore always had a guilty conscience when his father was angry. So the boy slipped quietly around the house. There is nothing so soothing to a guilty conscience as to be out of the path of the avenger. Mr. Morehouse stormed into the house. "Where's the ink?" he shouted at his wife as soon as his foot was across the door-sill. Mrs. Morehouse jumped, guiltily. She never used ink. She had not seen the ink, nor moved the ink, nor thought of the ink, but her husband's tone convicted her of the guilt of having borne and reared a boy, and she knew that whenever her husband wanted anything in a loud voice the boy had been at it. "I'll find Sammy," she said meekly. When the ink was found Mr. Morehouse wrote rapidly, and he read the completed letter and smiled a triumphant smile. "That will settle that crazy Irishman!" he exclaimed. "When they get that letter he will hunt another job, all right!" A week later Mr. Morehouse received a long official envelope with the card of the Interurban Express Company in the upper left corner. He tore it open eagerly and drew out a sheet of paper. At the top it bore the number A6754. The letter was short. "Subject -- Rate on guinea-pigs," it said, "Dr. Sir -- We are in receipt of your letter regarding rate on guinea-pigs between Franklin and Westcote, addressed to the president of this company. All claims for overcharge should be addressed to the Claims Department." Mr. Morehouse wrote to the Claims Department. He wrote six pages of choice sarcasm, vituperation and argument, and sent them to the Claims Department. A few weeks later he received a reply from the Claims Department. Attached to it was his last letter. "Dr. Sir," said the reply. "Your letter of the 16th inst., addressed to this Department, subject rate on guinea-pigs from Franklin to Westcote, rec'd. We have taken up the matter with our agent at Westcote, and his reply is attached herewith. He informs us that you refused to receive the consignment or to pay the charges. You have therefore no claim against this company, and your letter regarding the proper rate on the consignment should be addressed to our Tariff Department." Mr. Morehouse wrote to the Tariff Department. He stated his case clearly, and gave his arguments in full, quoting a page or two from the encyclopedia to prove that guinea-pigs were not common pigs. With the care that characterizes corporations when they are systematically conducted, Mr. Morehouse's letter was numbered, O. K'd, and started through the regular channels. Duplicate copies of the bill of lading, manifest, Flannery's receipt for the package and several other pertinent papers were pinned to the letter, and they were passed to the head of the Tariff Department. The head of the Tariff Department put his feet on his desk and yawned. He looked through the papers carelessly. "Miss Kane," he said to his stenographer, "take this letter. 'Agent, Westcote, N. J. Please advise why consignment referred to in attached papers was refused domestic pet rates.'" Miss Kane made a series of curves and angles on her note book and waited with pencil poised. The head of the department looked at the papers again. "Huh! guinea-pigs!" he said. "Probably starved to death by this time! Add this to that letter: 'Give condition of consignment at present.'" He tossed the papers on to the stenographer's desk, took his feet from his own desk and went out to lunch. When Mike Flannery received the letter he scratched his head. "Give prisint condition," he repeated thoughtfully. "Now what do thim clerks be wantin' to know, I wonder! 'Prisint condition,' is ut? Thim pigs, praise St. Patrick, do be in good health, so far as I know, but I niver was no veternairy surgeon to dago pigs. Mebby thim clerks wants me to call in the pig docther an' have their pulses took. Wan thing I do know, howiver, which is they've glorious appytites for pigs of their soize. Ate? They'd ate the brass padlocks off of a barn door! If the paddy pig, by the same token, ate as hearty as these dago pigs do, there'd be a famine in Ireland." To assure himself that his report would be up to date, Flannery went to the rear of the office and looked into the cage. The pigs had been transferred to a larger box -- a dry goods box. "Wan, -- two, -- t'ree -- four, -- foive, -- six, -- sivin, -- eight!" he counted. "Sivin spotted an' wan all black. All well an' hearty an' all eatin' loike ragin' hippy-potty-musses." He went back to his desk and wrote. "Mr. Morgan, Head of Tariff Department," he wrote. "Why do I say dago pigs is pigs because they is pigs and will be til you say they ain't which is what the rule book says stop your jollying me you know it as well as I do. As to health they are all well and hoping you are the same. P. S. There are eight now the family increased all good eaters. P. S. I paid out so far two dollars for cabbage which they like shall I put in bill for same what?" Morgan, head of the Tariff Department, when he received this letter, laughed. He read it again and became serious. "By George!" he said, "Flannery is right. 'Pigs is pigs.' I'll have to get authority on this thing. Meanwhile, Miss Kane, take this letter: "Agent, Westcote, N. J. Regarding shipment guinea-pigs, File No. A6754. Rule 83, General Instruction to Agents, clearly states that agents shall collect from consignee all costs of provender, etc., etc., required for live stock while in transit or storage. You will proceed to collect same from consignee." Flannery received this letter next morning, and when he read it he grinned. "Proceed to collect," he said softly. "How thim clerks do loike to be talkin'! Me proceed to collect two dollars and twinty-foive cints off Misther Morehouse! I wonder do thim clerks know Misther Morehouse? I'll git it! Oh, yes! 'Misther Morehouse, two an' a quarter, plaze.' 'Cert'nly, me dear frind Flannery. Delighted!' Not!" Flannery drove the express wagon to Mr. Morehouse's door. Mr. Morehouse answered the bell. "Ah, ha!" he cried as soon as he saw it was Flannery. "So you've come to your senses at last, have you? I thought you would! Bring the box in." "I hev no box," said Flannery coldly. "I hev a bill agin Misther John C. Morehouse for two dollars and twinty-foive cints for kebbages aten by his dago pigs. Wud you wish to pay ut?" "Pay -- Cabbages -- !" gasped Mr. Morehouse. "Do you mean to say that two little guinea-pigs --" "Eight!" said Flannery. "Papa an' mamma an' the six childer. Eight!" For answer Mr. Morehouse slammed the door in Flannery's face. Flannery looked at the door reproachfully. "I take ut the con-sign-y don't want to pay for thim kebbages," he said. "If I know signs of refusal, the con-sign-y refuses to pay for wan dang kebbage leaf an' be hanged to me!" Mr. Morgan, the head of the Tariff Department, consulted the president of the Interurban Express Company regarding guinea-pigs, as to whether they were pigs or not pigs. The president was inclined to treat the matter lightly. "What is the rate on pigs and on pets?" he asked. "Pigs thirty cents, pets twenty-five," said Morgan. "Then of course guinea-pigs are pigs," said the president. "Yes," agreed Morgan, "I look at it that way, too. A thing that can come under two rates is naturally due to be classed as the higher. But are guinea-pigs, pigs? Aren't they rabbits?" "Come to think of it," said the president, "I believe they are more like rabbits. Sort of half-way station between pig and rabbit. I think the question is this -- are guinea-pigs of the domestic pig family? I'll ask Professor Gordon. He is authority on such things. Leave the papers with me." The president put the papers on his desk and wrote a letter to Professor Gordon. Unfortunately the Professor was in South America collecting zoological specimens, and the letter was forwarded to him by his wife. As the Professor was in the highest Andes, where no white man had ever penetrated, the letter was many months in reaching him. The president forgot the guinea-pigs, Morgan forgot them, Mr. Morehouse forgot them, but Flannery did not. One-half of his time he gave to the duties of his agency; the other half was devoted to the guinea-pigs. Long before Professor Gordon received the president's letter Morgan received one from Flannery. "About them dago pigs," it said, "what shall I do they are great in family life, no race suicide for them, there are thirty-two now shall I sell them do you take this express office for a menagerie, answer quick." Morgan reached for a telegraph blank and wrote: "Agent, Westcote. Don't sell pigs." He then wrote Flannery a letter calling his attention to the fact that the pigs were not the property of the company but were merely being held during a settlement of a dispute regarding rates. He advised Flannery to take the best possible care of them. Flannery, letter in hand, looked at the pigs and sighed. The dry-goods box cage had become too small. He boarded up twenty feet of the rear of the express office to make a large and airy home for them, and went about his business. He worked with feverish intensity when out on his rounds, for the pigs required attention and took most of his time. Some months later, in desperation, he seized a sheet of paper and wrote "160" across it and mailed it to Morgan. Morgan returned it asking for explanation. Flannery replied: "There be now one hundred sixty of them dago pigs, for heavens sake let me sell off some, do you want me to go crazy, what." "Sell no pigs." Morgan wired. Not long after this the president of the express company received a letter from Professor Gordon. It was a long and scholarly letter, but the point was that the guinea-pig was the Cavia aparoea while the common pig was the genus Sus of the family Suidae. He remarked that they were prolific and multiplied rapidly. "They are not pigs," said the president, decidedly, to Morgan. "The twenty-five cent rate applies." Morgan made the proper notation on the papers that had accumulated in File A6754, and turned them over to the Audit Department. The Audit Department took some time to look the matter up, and after the usual delay wrote Flannery that he has had on hand one hundred and sixty guinea-pigs, the property of consignee, he should deliver them and collect charges at the rate of twenty-five cents each. Flannery spent a day herding his charges through a narrow opening in their cage so that he might count them. "Audit Dept." he wrote, when he had finished the count, "you are way off there may be was one hundred and sixty dago pigs once, but wake up don't be a back number. I've got even eight hundred, now shall I collect for eight hundred or what, how about sixty-four dollars I paid out for cabbages." It required a great many letters back and forth before the Audit Department was able to understand why the error had been made of billing one hundred and sixty instead of eight hundred, and still more time for it to get the meaning of the "cabbages." Flannery was crowded into a few feet at the extreme front of the office. The pigs had all the rest of the room and two boys were employed constantly attending to them. The day after Flannery had counted the guinea-pigs there were eight more added to his drove, and by the time the Audit Department gave him authority to collect for eight hundred Flannery had given up all attempts to attend to the receipt or the delivery of goods. He was hastily building galleries around the express office, tier above tier. He had four thousand and sixty-four guinea-pigs to care for! More were arriving daily. Immediately following its authorization the Audit Department sent another letter, but Flannery was too busy to open it. They wrote another and then they telegraphed: "Error in guinea-pig bill. Collect for two guinea-pigs, fifty cents. Deliver all to consignee." Flannery read the telegram and cheered up. He wrote out a bill as rapidly as his pencil could travel over paper and ran all the way to the Morehouse home. At the gate he stopped suddenly. The house stared at him with vacant eyes. The windows were bare of curtains and he could see into the empty rooms. A sign on the porch said, "To Let." Mr. Morehouse had moved! Flannery ran all the way back to the express office. Sixty-nine guinea-pigs had been born during his absence. He ran out again and made feverish inquiries in the village. Mr. Morehouse had not only moved, but he had left Westcote. Flannery returned to the express office and found that two hundred and six guinea-pigs had entered the world since he left it. He wrote a telegram to the Audit Department. "Can't collect fifty cents for two dago pigs consignee has left town address unknown what shall I do? Flannery." The telegram was handed to one of the clerks in the Audit Department, and as he read it he laughed. "Flannery must be crazy. He ought to know that the thing to do is to return the consignment here," said the clerk. He telegraphed Flannery to send the pigs to the main office of the company at Franklin. When Flannery received the telegram he set to work. The six boys he had engaged to help him also set to work. They worked with the haste of desperate men, making cages out of soap boxes, cracker boxes, and all kinds of boxes, and as fast as the cages were completed they filled them with guinea-pigs and expressed them to Franklin. Day after day the cages of guinea-pigs flowed in a steady stream from Westcote to Franklin, and still Flannery and his six helpers ripped and nailed and packed -- relentlessly and feverishly. At the end of the week they had shipped two hundred and eighty cases of guinea-pigs, and there were in the express office seven hundred and four more pigs than when they began packing them. "Stop sending pigs. Warehouse full," came a telegram to Flannery. He stopped packing only long enough to wire back, "Can't stop," and kept on sending them. On the next train up from Franklin came one of the company's inspectors. He had instructions to stop the stream of guinea-pigs at all hazards. As his train drew up at Westcote station he saw a cattle car standing on the express company's siding. When he reached the express office he saw the express wagon backed up to the door. Six boys were carrying bushel baskets full of guinea-pigs from the office and dumping them into the wagon. Inside the room Flannery, with his coat and vest off, was shoveling guinea-pigs into bushel baskets with a coal scoop. He was winding up the guinea-pig episode. He looked up at the inspector with a snort of anger. "Wan wagonload more an' I'll be quit of thim, an' niver will ye catch Flannery wid no more foreign pigs on his hands. No, sur! They near was the death o' me. Nixt toime I'll know that pigs of whativer nationality is domistic pets -- an' go at the lowest rate." He began shoveling again rapidly, speaking quickly between breaths. "Rules may be rules, but you can't fool Mike Flannery twice wid the same thrick -- whin ut comes to live stock, dang the rules. So long as Flannery runs this expriss office -- pigs is pets, -- an' cows is pets, -- an' horses is pets, -- an' lions an' tigers an' Rocky Mountain goats is pets, -- an' the rate on thim is twinty-foive cints." He paused long enough to let one of the boys put an empty basket in the place of the one he had just filled. There were only a few guinea-pigs left. As he noted their limited number his natural habit of looking on the bright side returned. "Well, annyhow," he said cheerfully, "'tis not so bad as ut might be. What if thim dago pigs had been elephants!"

Oktober 14, 2009

DALAM REMANG – REMANG

Meski hari ini langit tampak cerah, awan tidak tampak berkerumunan di jagad atas, terik matahari seraya lebam di pori kulit ku. Ya. Sepanjang perjalanan ku berjalan kaki dari pondok baca “Jemari” ke tempatku bertinggal, udara yang senyap membalut tiap penampang pori gelapku. Aku berfikir bahwa ini hanya akal bulus udara dengan kandungan padat polusi. Dengan berjalan di pinggiran jalan tol seperti ini, bukan hal yang mustahil untuk tidak terkontaminasi dengan gas-gas beracun dari bokong kendaraan yang tidak punya tata krama. Apa boleh dikata. Mereka tidak bersekolah. Aku juga tidak bersekolah. Tapi setidaknya, aku belajar banyak hal dari membaca buku di pondok baca “Jemari”. Begitu pula beberapa orang temanku. Aku rasa teman – teman ku lebih baik dalam hal ini.
Belakangan ini, aku dan teman – teman sering mengunjungi kakak Seta di pondok baca “Jemari”. Meski tempatnya tidak seluas sekolah yang berada tepat di sebelah pasar Ginting dekat gubukku tinggal, buku – buku yang tersusun di rak - rak bertingkat tiga yang panjang lebih banyak dari buku – buku yang di jual di emperan pasar. Hanya majalah dan koran yang ada di sana. Di situ pun aku tidak diperbolehkan untuk memegang lebih – lebih membacanya. Di pondok baca di mana kak Seta sering mengajari kami membaca dan menulis abjad, tersedia buku – buku yang lebih menarik dari sekedar koran dan majalah. Aku dan teman – teman sangat senang sekali di sana. Kami sering menghabiskan waktu hingga sore hanya untuk membaca. Hanya saja, beberapa hari ini, aku harus pulang lebih awal. Ayahku jatuh sakit.
Meski aku baru berumur 13 tahun, aku selalu membantu ayah memulung sampah. Got. Tong sampah. Penampungan sampah. Di tempat – tempat itu kami bekerja. Ayah mendorong gerobak sampah dari kayu. Aku mengiringi dari samping. Kami berdua memikul keranjang dari anyaman bambu dan capit. Ukuran keranjangku lebih kecil. Kami selalu berkerja semenjak pagi. Maklum saja, pekerjaan yang kami tekuni ini sangat beresiko sekali. Sering ayahku beradu mulut dengan sesama pemulung. Ada yang pernah mengatakan bahwa kami telah menyabotase wilayahnya. Ada pula yang menuduh kami berkoalisi dengan pemulung lainnya untuk pemekaran wilayah operasi. Aku hanya menonton saja. Meski badanku bongsor, aku tidak mau mengambil bagian dalam pertengkaraan mereka. Jika mereka mulai mencelakai ayahku, baru aku turun tangan. Aku harus punya strategi jitu. Wajar saja, persaingan di dunia pemulungan ini sangat keras. Seperti pribahasa yang kubaca dari buku “1000 Pribahasa Indonesia”. Yang kuat, dia yang berkuasa.
Tepatnya empat hari lalu. Krumunan pria dan wanita berjas hijau yang sebagian mengenakan ikat kepala putih beramai – ramai berjalan sembari berteriak tidak jelas membawa kain putih panjang bertuliskan “Pemilu cacat. Bubarkan KPU. Indonesia penuh noda”. Saat itu, seperti biasa, aku dan ayah sedang memulung di emperan jalan tidak jauh dari kerumunan yang semakin memekakkan telinga itu. Kami kemudian melanjutkan ke lokasi pemulungan selanjutnya. Karena salah satu jalur adalah melewati kerumunan itu, ayah sempat ragu. Ia memintaku untuk sejenak berhenti di rimbunnya bawah pohon pinggiran jalan. Belum sempat aku mengistirahatkan sepasang kakiku, ayah memintaku untuk bangun. Kami berjalan. Dari pinggiran jalan, kami menelusuri kerumunan itu dengan arah yang berlawanan. Hanya saja, mereka tidak memberikan celah bagi kami. Tiba – tiba seorang dari mereka di sebelah seorang pria tepat di sampingku berteriak, “Mata – mata. Ada polisi preman. Ada polisi preman.” Kerumunan yang tadinya hanya terfokus berjalan tiba – tiba berhamburan dan berlari ke arah kami. Ayah menarikku dan berlari menjauh. Kami terkejar. Seorang menarik kaos yang dikenakan ayah. Ia jatuh tersungkur. Massa mulai menegerumuni kami. Ayah mendorongku keluar dari kerumunan. Aku lihat massa yang sesak itu satu persatu menjatuhkan hantaman dan injakan ke tubuh renta ayahku. Aku berteriak. Aku menjerit. Aku menangis. Aku coba masuk kembali ke dalam kerumunan tersebut untuk melindungi ayah. Aku tak mampu. Ada yang menarik baju kusuhku menjauh dari kerumunan.
“Tetap di sini, Hamid.”
Sejenak aku tatap wajah berkacamatanya. Aku rasa aku mengenalnya. “Kak Seta?”
Dengan tersenyum dia menatapku, “Tenanglah!”
“Ayah”, aku beranjak menangis. Kak Seta mendekati kerumunan masa yang sedang menghakimi ayah. Kedua tangannya mulai memilah - milah masa sehingga menyisakan ayahku dan kak seta. Dengan ditemani seorang wanita berkacamata ia membopong ayah ke bibir trotoar menjauh dari kerumunan masa. Aku berlari menghampiri mereka.
“Kita harus segera memberikan pertolongan kepada bapak ini”, wanita tersebut memandang tajam kak seta. “Kamu kendalikan masa. Bubarkan atau bawa kembali ke basecamp. Jangan sampai kejadian ini berulang. Saya yang akan membawanya ke puskesmas terdekat.”
Kak seta tak merespon. Wajahnya tampak datar. Tangannya melambai memanggil tukang becak yang menonton kejadian itu. “Puskesmas atau rumah sakit. Terserah yang mana. Cepat.” Pintanya pada tukang becak bertopi bundar itu.
Aku membantu wanita itu menaikkan ayah ke atas becak. Wantia itu duduk tepat di samping ayah. Aku tidak mendapat tempat di sana. Aku merengek. Tanganku meraih besi – besi atap becak tersebut yang pipih. Aku coba untuk menahan mereka pergi. Namun, kak seta menarik tanganku.
Kedua tangan kak seta mendorong perlahan punggungku. “Pulanglah ke taman Baca. Nanti kak akan jemput kamu di sana. Kak seta janji.” Aku mengangguk. Kemudian dia beranjak pergi ke kerumunan manusia yang telah menghadiahkan memar di renta tubuh ayahku.
Beranjak aku pergi menuju ke pondok baca. Di dalam perjalanan, otakku tak hentinya memutar balik kejadian itu. Rasanya air mataku ingin sekali mendobrak keluar dari ke dua mata sayuku. Aku merasa layaknya seseorang yang sedang dicuci otaknya. Aku pusing. Teramat pusing. Trotoar jalan mulai meninggalkanku. Mobil dan motor di samping kananku seakan menghilangkan dari pengelihatanku. Hingga pandanganku nampak kabur. Benar – benar kabur.

M. SAYID WIJAYA

Maret 10, 2009

Behind The Missing Trace

Once upon a time, a little blond boy came to a village near long river. He was accompanied by no people. He walked away as there was no resident to ask for direction. He carried a black square suitcase on his left hand. On his right hand he carried nothing except his dirty colored hat. He looked like having a long traveling before getting this town. He stopped. He tried to sit beneath the oak tree. The sun went mad.

After a long break, there was a cart passing by him slowly. The blond boy, suddenly, got up and followed that cart. Unfortunately, when they reached a forest in the south, he missed the cart. However, he tried to find it by going along the cart stamp on the ground.

“I though I could ask them for direction. Hmm, Metro Kingdom. I have no idea where to find it,’ while taking some break near the river.

That boy opened his small bag and took a dull map. “Now, I guess, I am almost in Ganjar Agung Village. It means that I will get to Metro Kingdom,” he kept looking at the map and was in silent. “But why didn’t I find any villagers along this way.” He was shocked, “Am I supposed to be lost?” “Shit!” throwing the map to the ground.

“Aaaaaaaaaaaa!”

He heard a screaming near him. “What the hell of that!” He stood up and searching for where the screaming came from. He was surprised by the three giant flying bees attacking a girl wearing an antique dress.

“Help me! Help me!,” shout the dwarf girl. She held a wand that has a blue small crystal ball on the top.

The boy got his bag and took a small pouch. “Magic Pouch! Physical Bow!” suddenly, he held a bow that came out from that pouch. One of the three giant bees addressed him by shooting its sting in turn.

“Shit! I cannot release my arrow if it attacks me by this way. I should make a plan”, he run to hide behind the trees. “Nice. I knew it.”

The giant bees kept searching for the boy by going around the area while the others are trying to capture the dwarf. The girls kept screaming. The boy directly jumped over the flying bee and stand on it. “Paralyzed Arrow!” as he released the arrow right to its head, that bee was paralyzed. He, then, hit the other one. “Paralyzed Arrow!” when he was trying to shoot the last bee from up the bee body he firstly shot, suddenly, an amount of giant bees gathered in that area.

“Oh my . . .!” He kept standing and still holding the bow.

Unpredictable, two giant bees attacked him from behind and released the poison bee stings. The boy had no chance to avoid them. The stings became closer to the boy. He just had no way to run. The stings hit the boy’s bodies.

“Shhhhield!”

In the right time, an elastic shield covered the boy bodies and bounced to the ground closer to the dwarf girl. The giant bees chased the boy by releasing the stings to the bounced shield but had no effect.

“A . . . a . . . are you a . . . alright?” asked her.

The boy was amazed, “How. . . you . . . bah! Why don’t you use your magic since the beginning?” speaking rudely.

“”I am sorry. I am just a novice. So I cannot spell it once.” Confessed the girl.

“Oh, I see. Now . . .” before completing his words, the bees releasing a great amount of poison stings to them.

“Shield!” They were covered by the bubble shield, “Wait a minute. It looks like unordinary poison stings.” Guessed the girl.

“What do you mean?”

“Look! When our shield bounced the poison stings attack, the poison lubricant spilled the surrounding us and melt the ground, trees, and any things affected by it. It never happened with another poison sting. The only I think is that this poison contain dense high acid. And I assume that it is only produced by the Queen of The Giant Bee. I guess so.”

The boy just looked at the dwarf girl suspiciously, “You are a novice magician or a sage, aren’t you?”

While they were discussing, smaller poison bee stings almost hit the shield. “First shield, Ground Ring!” A transparent shield of ground protected them. Smaller and normal bee stings hit the shield on and on. The shield seemed to be broken.

“We are finished”, said the boy.

They heard a strange voice. “For the eternity of the air, for the mortal ocean, the living earth are the glory of the universe, I summon the ancient beast “Flying Turtle”. And the weather changed. The sky were going to be black covered by the dark clouds. The air breezed strongly. The rain fall down on the earth and a giant turtle with a pair of phoenix wing were flying above them.

“What!” the boy pointed out it, “Who is he? He is a human. I never know that human could be a summoner.”

That giant turtle opened his mouth. There is a man standing on her shell. He had also a pair of wing. “Fire Blast!” then, the turtle blast fire from its mouth and swing its wings that makes fire become rudeness and directly hit the bees and the Queen. “We made it.”

The fog is surrounding the area hitting by the attack. That man and his giant turtle go down from the sky. But, before reaching the ground, the Queen came out from the fog heading to the giant flying turtle. It stopped on the air and lunched one huge sting from its tail and two stings from its hands.

To be continued . . .

M. Sayid Wijaya

Februari 05, 2009

SANTRI DAN DOA

Sehabis acara mujahadahan yang melelahkan di alun – alun kampung, seorang santri bertanya pada kiainya, “Apakah semua doa yang kita panjatkan dapat membuat kita lebih dekat kepada Allah?”

“Apakah segenap doa yang kau panjatkan dapat membikin matahari terbit esok hari?” ujar kiai, bertanya balik.

“Tentu saja tidak! Matahari terbit berdasarkan sunnatullah.”

“Ya, itulah jawabannya. Kedekatan kita dengan Allah bukan lantaran banyaknya doa yang kita panjatkan.”

Santri itu tersentak bingung.

“Jika demikian, apakah doa kita sia-sia?” katanya mencoba menyimpulkan.

“Sudah pasti tidak. Apabila besok kau tidak bangun pagi maka kau tidak akan pernah menyaksikan matahari terbit. Dan, meski Allah senantiasa bersama kita, jika kau tidak berdoa maka selamanya kau tidak akan pernah merasakan kehadiran –Nya,”

Fahrudin Nasrulloh, “Syaikh Branjang Abang”, hlm. 15-16

PERJALANAN KIAI SIRAJ

Kiai Siraj ditanya oleh salah seorang sahabatnya “Apakah sampean tidak punya niat untuk menikah di usia yang 50 tahun ini?”

“Ya, punya,” jawab Kiai Siraj. “Dulu saat masih muda, aku telah bersusah payah mencari perempuan yang sempurna. Pernah dari Tasikmalaya aku merambah hutan belantara untuk sampai ke Demak, dan aku bertemu seorang perempuan yang sangat alim dan jelita, namun ia tidak tahu apa apa tentang urusan dunia. Aku tidak mau perempuan macam ini. Kemudian kulanjutkan perjalanan ke Madiun. Di sana, aku bertemu seorang perempuan yang alim dan menguasai kehidupan duniawi. Sayangnya, gadis itu tidak cantik. Aku juga tidak ingin puya istri yang jelek seperti dia. Lantas aku melanjutkan perjalananku lagi ke Surabaya, di sana aku dijamu makan malam di rumah seorang perempuan yang amat cantik, taat beragama dan sukses dalam urusan dunia.”

“Lalu, mengapa kau tidak menikahinya?”

“Dia tidak mencintaiku!”

Fahrudin Nasrulloh, “Syaikh Branjang Abang”, hlm. 94

Mei 16, 2008

SINGKONG GORENG

Jika anda melewati jalan Pamungkas, ada sekitar lima gang sebelum perempatan lampu merah menuju ke jalan Jendral A. Yani. Gang ke lima sebelum warung makan Bang Warso, silahkan anda berbelok ke kiri. Rumah ke tiga dari perempatan, maka anda akan menemukan sebuah rumah yang dinding bagian luar terbuat dari batu bata. Di halaman rumahnya ada sepasang kursi dari kayu yang ditengahi oleh sebuah meja bundar juga terbuat dari kayu yang diatasnya terdapat sebuah pot bunga. Dan di halaman luarnya ada sebatang pohon jambu yang sedang berbuah merah.

Rumah tersebut adalah rumah dimana aku tinggal bersama seorang adik yang berumur lima tahun dan juga seorang pembantu. Namanya mbok Mariah. Tetapi aku sering memanggilnya mbok Mar. Dia sudah lama bekerja di rumahku. Kata ibu, mbok Mar sudah bekerja sebelum bapak dan ibu berencana membuatku. Aku masih bingung sampai sekarang. Aku membayangkan ketika ibu dan bapak membuatku pasti sangat melelahkan. Seperti halnya membuat sebuah robot. Proses yang panjang dan pastinya melelahkan.

Bapak dan ibu selalu bepergian. Seringkali mereka meninggalkan kami selama beberapa bulan. Aku sangat senang jika mereka bepergian. Ketika pulang ke rumah, bapak dan ibu pasti membawa oleh – oleh untuk kami. Bapak sering membelikanku buku – buku yang aku sendiri malas untuk membacanya. Bagaimana tidak, buku yang dibelikan bapak selalu tebal. Aku tidak pernah selesai membacanya. Karena aku sangat sibuk sekali.

Aku harus pergi ke sekolah di pagi hari. Sedangkan siangnya, aku bermain di lapangan desa bersama teman – temanku. Kadang kami bermain bola, hitungan sumput, gobak sodor atau taplak meja. Dan di saat senja baru aku akan pulang ke rumah. Setelah sholat maghrib, ibu menyuruh ku mengaji di langgar hingga sholat isya’ tiba. Setelah makan malam, aku pasti tertidur karena kelelahan bermain seharian. Jadi, tidak ada waktu untuk membaca buku – buku tebal itu.

Ayah dan ibu sekarang sedang bepergian ke kota seberang. Mungkin mereka akan pulang ke rumah dua minggu lagi. Mbok Mar, adik ku dan aku sendiri hari ini akan pergi ke kebun di belakang rumah untuk mencabut umbi – umbian. Memang kebun kami tidak seluas kebun tetangga. Tetapi, kebun kami lebih terawat. Mbok Mar sering membersihkan kebun, menyapu, mencabut rumput dan kadang memetik daun singkong untuk di jadikan lalapan dan disantap dengan sambal terasi dan ikan asin goreng. Aku sangat suka jika mbok Mar menyajikan menu itu.

Sekarang, aku akan pergi duluan ke kebun. Biar nanti mbok Mar pergi bersama adikku yang cengeng itu. Jika aku tidak pergi duluan pasti mbok Mar menyuruhku membawa ember dan golok.

###

Pohon – pohon singkong di kebun ku sudah tinggi. Jikalau dibandingkan dengan mbok Mar, kira – kira tiga jengkal lagi baru bisa menyaingi pohon singkong itu. Hal yang wajar, karena mbok Mar sekarang sudah berumur dan punggungnya agak sedikit bongkok.

Tidak hanya umbi – umbian yang ada di kebunku. Di sebelahnya ada juga kandang ayam. Ayam kampung. Ibu ku yang membelikannya. Katanya, ibu membelikan sepasang ayam kampung ini agar aku mengetahui bagaimana cara merawat diri, padahal bukan diriku yang dirawat melainkan sepasang ayam. Kadang aku berpikir bahwa ibu memang aneh.

Cah gemblengmbok Mar datang dari pintu belakang rumah dan membawa sebuah ember hitam yang di dalamnya ada sebuah golok. Seperti biasa, ia selalu mengenakan jarik dan berpakaian adat jawa. Layaknya artis – artis di televisi yang sering aku tonton.

“Adik mu ditinggal ember dan golok tidak di bawa.”

Kelalen mbok.”

Jidatmu iku seng kelalen” serambi meletakkan ember di dekat kandang ayam. “Isi air.”

Jika embok sedang marah, aku selalu diam tidak bicara. Jika tidak, mbok pasti berkoar lama. Mulutnya komat – kamit dan aku kadang tidak mengerti apa yang di katakannya. Jangan – jangan mbok Mar terkena guna – guna. Atau memang begitu orang yang sudah berumur seperti mbok Mar. Sepertinya aku tidak ingin menjadi tua. Sering ngomel dan tidak punya teman bermain. Memang aku tidak pernah melihat mbok Mar bermain bersama teman. Apalagi bermain layaknya aku. Apa memang mbok Mar tidak tahu caranya bermain hitungan sumput atau gobak sodor? Mungkin suatu saat aku harus mengajarkannya bermain supaya tidak terlalu sering marah.

Mengambil air adalah tugasku. Mbok Mar tidak akan memberikan singkong bakar kepada ku jika aku tidak mengambil air. Sumurnya ada di dalam rumah di samping dapur. Untung saja sumur di rumahku ada katrolnya. Aku tidak akan keberatan menimba air. Tidak seperti di rumah Dodi yang tidak memakai katrol. Tetapi rumah besar di ujung jalan menggunakan pompa air. Dengan hanya memindahkan sakral, airnya sudah melimpah keluar. Jadi, tidak perlu mengeluarkan tenaga seperti aku.

Mbok, ini airnya. Mau dipakai untuk apa?”

“Nyiram tanah supaya nyabut singkongnya gampang”

Kok tidak menggunakan golok saja, mbok?”

Mbok Mar hanya diam saja. Dia memulai menyirami tanah di sekitar pohon singkong. “Dicabut dulu lalu di potong nganggo golok” berhenti sejenak lalu melihat kearahku. “Piye?”

Aku hanya mengangguk saja. Masalahnya aku tidak terbiasa mencabut singkong. Mbok Mar yang selalu melakukannya dan dia mengerjakannya sudah berpuluh tahun dan pastinya sudah ahli.

Mbok Mar mulai mencabut singkong. Urat – urat yang menonjol di tangannya seperti kabel – kabel di kamarku. Dan ia mencabutnya dengan cepat. Satu pohon sudah dicabut. Di bawahnya ada tiga buah singkong besar dan bertanah. Kemudian mbok Mar menuju ke pohon sebelahnya. Sedangkan adikku sibuk mengganggu sepasang ayam yang sedang berkencan di dalam kandangnya. Ia mengusili ayam dengan menggunakan lidi sehingga ayam – ayam itu berteriak kegelian. Tiba – tiba, mbok Mar sudah mencabut pohon singkong yang kedua dan memisahkannya dari batangnnya.

Uwes mbok?” aku berlari ke arahnya dan kemudian diikuti adikku yang sepertinya terlihat bosan menjahili ayamku. Namun, mbok Mar hanya terdiam saja dan membersihkan singkong – singkong itu dari tanah dan memasukkanya kedalam ember yang berisi air. “Ambil korek di dapur, nduk!” Lalu adikku segera berlari ke dapur untuk mengambil korek.

Mbok, koreknya di mana?” adik ku berteriak dari dapur.

Em-bok, koreknya di mana?” berdiri di depan pintu dan menampakkan wajah lugunya.

“Di bawah kompor” mbok Mar menjawab pelan. Lalu adikku kembali ke dapur. Tidak lama kemudian ia berlari dengan cepat ke arah kami

Iki mbok” duduk mendekat dan menjulurkan korek yang berada di tangannya.

“Dipegang dulu ya nduk.”

Adik ku hanya mengangguk dan menarik kembali tangannya. Kami berdua hanya terdiam memperhatikan mbok yang sibuk dengan singkong – singkongnya. Sesekali adik ku menggerakkan badannya ke belakang dan ke depan. Sedangkan aku meletakkan sandal yang ku pakai di bawah pantat ku untuk di duduki.

###

Adikku mencelupkan tangannya kedalam ember yang berisi air dan menghitung satu persatu singkong yang ada di dalamnya. “Enam.” Ia berhenti menghitung singkong di dalam ember. “Aku dapet dua, mas Bedu dapet dua dan mbok Mar juga dapet dua” sembari tersenyum kecil. “Adil dong.”

Lalu mbok Mar memasukkan singkong terakhir kedalam ember. Wajah adik ku terlihat kecewa karena jumlah singkongnya bukan enam, melainkan tujuh.

“Loh, kok nambah satu lagi mbok. Padahalkan sudah pas kalau di bagi” mengeluh dengan nada kecewa.

“Tapi ndak popo. Singkong itu nanti di bagi aja. Aku setengah, mas Bedu setengah dan mbok setengah.”

“Ya sudah” jawab mbok.

“Yakin!” aku sedikit menyela.

Adik ku terdiam sejenak. Mbok Mar bangun dan membawa ember air yang berisi singkong. Adik ku menarik – narik baju mbok Mar. “Mbok, singkong yang terakhir buat bapak sama ibu saja ya.”

“Ia” mbok Mar menjawab singkat.

###

Sampah – sampah sudah terkumpul dan kami siap membakar singkongnya. Mbok Mar mengeluarkan singkong – singkong dari dalam ember dan kemudian diletakkan di tengah tumpukan sampah.

“Singkong singkong, singkong singkong” adik ku bersorak kegirangan. “Kalau singkong nya sudah ada yang matang, buat aku duluan.”

“Enak aja” aku menyela dengan nada mengejek.

“Aku duluan ya mbok” serambi menjulurkan lidahnya. Mbok Mar hanya mengangguk. Tiba – tiba suara guntur terdengar dari langit dan seketika langit berubah menjadi gelap.

“Wah, mau hujan nih.”

Mbok mau hujan” adikku merengek.

Mbok Mar mengadahkan kepalanya ke atas, “Oh, iya”.

Dan tiba – tiba air hujan mengguyur kami. Aku berlari ke teras belakang. Sedangkan adik ku tetap berdiri di tempatnya. Lalu ia melompat – lompat menyambut turunnya hujan. Sedangkan mbok Mar sibuk mengacak – ngacak dan mengais sampah dan mengumpulkan kembali singkong – singkong ke dalam ember . Mereka segera menyusulku ke teras belakang.

Mbok, singkong bakarnya enggak jadi ya?” sembari menggaruk kepalanya dengan ujung jari telunjuknya.

“Enggak jadi dong” aku mengambil handuk yang tergantung di dekat pintu kamar mandi.

“Rugi nih, mbok” adikku merengek.

“Ya sudah. Nanti embok buat jadi singkong goreng aja ya!” mbok Mar tersenyum kecil.

“Yah, singkong goreng lagi nih.”

“Ha, ha , ha” aku dan mbok Mar hanya tertawa.

*pernah dikirim untuk dipublikasikan di makalah KROnIKa, namun tidak lulus editing dikarenakan tidak menyajikan permasalahan dalam alur.

Maret 19, 2008

DOUBT

Have you ever thought that you wanna end up your life soon, because of too many troubles surrounding you? You don’t grow up yet to solve them. Family, friendship, love, and identity are the common problems that usually occur to the teens. In fact, those who are able to resolve the problems will act and decide everything wisely.

Have you ever heard John Legend song “Ordinary People”? (Actually, I don’t find out the text yet). I like him. He sings it well. “Ordinary People” is not the song which tells about a group of person who has a great power and ability. X-Men, Power Rangers?? No way. I guess (it is only my opinion) the song refers to the people who are regarded ‘strange’ because they are different. Action, performance, ability (it is not the same ability as super heroes have), behavior, and physical defect become the reason why the other people make a distance from them. How could it be?! And do you know what? That is me.

My name is Sayid. I’m nineteen years old. I’m one of the teens who were told in the paragraph above. I’m just ordinary person who realizes that I can’t live leisurely. Because what? Because I am a strange boy.

I was fed up with my own life since I knew that I was a looser few years ago. I just followed where the flow went and saw the world from inside the cage. I didn’t realize that the decision I had made, at that time, was really a mistake. I decided to fulfill what my … (I don’t want to tell you who. It seems that I blame him/her/it, but it was really my mistake) wanted. I tried not to force. I just received it. And I was disappointed.

It is not a big deal for me now. I keep trying to repair my defect. And I really don’t care what people think about me. The changes I’ve made and what I do along the day are my own business. They have no right to criticize me. I am the doer. I create the new me. They may do what they want as long as it doesn’t harm me and so may I. it is my commitment (it is your egoism, isn’t it?).

As human, I can’t keep a stack of my worries and anxieties alone. I share them with my really truly best and closest friend. He lives in Teluk Betung and has been working since few months ago in TPI (Tempat Pelelangan Ikan). We always share everything and I really miss him now. He is the only friend who understands the detail of me. If I am gonna go to Tanjung Karang, I will ask him to accompany me and go around or visit some places like what we did when we’re in the dormitory. Getting stress in the dormitory, we would go to some places and returned at nine p.m. (I feel I am calling him soon).

At last (I don’t tell all yet), I just wanna state that I have no ambition (I guess, but I don’t know). Living leisurely is not an ambition. It is just a denial (actually, I don’t think so). As Anna Akhmatova told us in his poet:


I Taught Myself to Live Simply by Anna Akhmatova

I taught myself to live simply and wisely,
to look at the sky and pray to God,
and to wander long before evening
to tire my superfluous worries.
When the burdocks rustle in the ravine
and the yellow-red rowanberry cluster droops
I compose happy verses
about life's decay, decay and beauty.
I come back. The fluffy cat
licks my palm, purrs so sweetly
and the fire flares bright
on the saw-mill turret by the lake.
Only the cry of a stork landing on the roof
occasionally breaks the silence.
If you knock on my door
I may not even hear.

http://famouspoetsandpoems.com/poets/anna_akhmatova/poems/31

Februari 25, 2008

Dilarang Mencintai Bunga-bunga Kuntowijoyo

Ayah baru saja dipindahkan ke kota ini setelah bertahun mengajukan permohonan. Katanya, supaya aku mengenal hidup lebih luas, tidak terkurung dalam lingkungan dusun yang sempit. Sehari setelah kami pindah, ayah sudah mulai bekerja dan sore hari baru ia kembali. Ayahku tampak lebih segar sekarang. Badannya tinggi besar dan kukuh, tidak terlelahkan oleh kerja apapun. Bukan main senang hati ayah, mendapat pekerjaan di kota. Ayah sibuk dengan pekerjaan, karena, malas adalah musuh terbesar laki-laki, kata ayah. Benar, di desa kita banyak tetangga, tetapi mereka membuat banci pikiran. Dan itu ayah tidak suka. Kesibukan ayah membuatnya tidak mengenal tetangga, hanya ibu sudah mulai banyak kawan, seperti biasanya ibuku di mana pun kami ditempatkan. Ayahku mengangguk saja pada orang sekitar bila kebetulan berpapasan, lalu buru-buru masuk rumah. Ibu sudah sering mendesak agar ayah suka bergaul dengan masyarakat. Kita hidup bersama-sama orang lain, kata ibuku. Namun, kami sekeluarga belum mengenal tetangga kami yang terdekat.
Kabarnya yang tinggal di rumah tua berpagar tembok tinggi ialah seorang kakek yang hidup sendiri. Rumah itu terletak di samping rumahku. Pagar tembok tinggi menutup rumahnya dari pandangan luar. Hanya ada pintu masuk dari muka, ditutup dengan anyaman bambu yang rapat. Aku belum pernah melihat kekek itu. Setelah kucoba naik ke pagar tembok, melalui pohon kates di pekaranganku, terbentanglah sebuah pemandangan: sebuah rumah Jawa, bersih seperti baru saja disapu, dan alangkah banyak bunga-bunga di tanam! Hari itu aku belum berhasil melihat penghuninya. Tidak pernah seharian penuh aku di rumah, ibuku menyuruh aku pergi sekolah pagi dan sore hari harus mengaji. Hari-hari minggu pertama habis untuk mencari saudara-saudara baru di kota ini.
Keinginanku untuk mengenal kakek itu tidak pernah padam. Kau lihatlah, lubang-lubang pada pagar anyaman bambu itu akibat perbuatanku. Aku mengerjakannya di siang hari sepulang dari sekolah. Pernah aku mengintip-intip pintu pagar dari bambu itu kawanku menegur:
“Sedang apa kau ini. Hati-hati dengan dia. Sebentar lagi tanganmu sakit. Tunggu sajalah.”
Ketakutan menyerang aku. Apakah aku akan sakit karena mencoba membuka pintu pagar rumah ini?
“Siapa bilang,” kataku berani.
“Semua orang,” jawabnya. “Kau kuwalat. Dia keramat.”
Aku ditinggalkannya, berdiri dekat pagar itu. Ketakutan mendesak-desak. Aku lari pontang-panting ke rumah. Ayahku sudah duduk di kursi dengan selembar koran. Aku tenang kembali. Baru sadar bahwa tas sekolahku tertinggal di pagar rumah samping itu. Sore hari aku memberanikan diri untuk mengambil tas yang tertinggal. Dan tas itu masih di sana! Tidak di mana pun di dunia, kecuali di pintu pagar itu, sebuah tas berharga akan selamat dari incaran orang.
Tentang kejadian itu kawanku mengatakan, tidak seorang pun berani mengambil, itu sudah pasti. Siapakah orang yang mau membunuh diri dengan upah sebuah tas sekolah? Lebih susah mencari sebuah nyawa daripada sebuah tas sekolah. Tidak satu pun toko menjual nyawa, tetapi semua toko menjul tas. Tentu saja!
Sejak itu niatku untuk mengetahui agak reda. Menyelidiki dengan mata sendiri berbahaya. Tinggalah aku bertanya pada orang-orang lain. Keterangan orang tidak begitu jelas. Orang mengatakan, sekali seminggu ia keluar berbelanja. Orang lain mengatakan, ia berbelanja sekali sebulan. Orang mengatakan, ia mempunyai anak di kota lain. Orang lain mengatakan, ia tidak beristri. Tidak seorang pun tahu dengan tentang dia.
Barangkali di antara kawan bermain hanya akulah yang mempunyai keinginan untuk mengetahui lebih banyak tentang kakek itu. Kawan lain sudah tidak acuh lagi. Aku sudah bosan bertanya, selain mereka tidak memberi keterangan jelas, juga mereka akan mengejekku dengan mengatakan, “Biarlah kau jadi cucunya!”
Pernah pula aku bertanya pada ayahku. Ayahku melemparkan koran dari tangannya dan meninggalkan aku. “Untuk apa, heh,” jawabnya. Itu adalah ucapan ayah yang sering kudengar. “Bertanyalah tentang lokomotif. Jangan tentang kakek-kakek sebelah rumah.” Aku sendirian saja di dunia, dengan keinginanku untuk mengetahui.
Tiba-tiba aku pun mengenalnya dari dekat! Begini. Pada musim layang-layang, angin bertiup kencang. Jalanan muka rumahku tidak banyak kendaraan. Polisi membiarkan anak-anak main layangan di situ. Kami suka berkumpul pada sore hari. Di bagian ini angin bebas berjalan, pepohonan tidak banyak.
Jumat sore hari aku tidak mengaji. Di tanganku sebuah layang-layang buatanku yang terbagus, dengan benang gelasan. Udara meruah menerbangkan layang-layangku. Dari kampung lain menyembul pula layang-layang lain. Layang-layangku terputus. Kawan-kawan bersorak dan lari mengejar. Itu layang-layangku terbagus, aku berdiri saja memandanginya. Tiba-tiba pundakku terasa dipegang. Aku terkejut. Seorang laki-laki tua dengan rambut putih dan piyama. Ia tersenyum padaku.
“Jangan sedih, Cucu,” katanya. Suara itu serak dan berat. Sebentar darahku tersirap. Aku teringat rumah tua berpagar tembok tinggi. Mataku melayang padanya. Di tangannya setangkai bunga berwarna ungu. Tubuhku menjadi dingin.
“Jangan sedih, Cucu. Hidup adalah permainan layang-layang. Semua orang suka hidup. Tidak seorang pun lebih suka mati. Layang-layang bisa putus. Engkau bisa sedih. Engkau bisa sengsara. Tetapi engkau akan terus memainkan layang-layang. Tetapi engkau akan terus mengharap hidup. Katakanlah, hidup itu permainan. Tersenyumlah, Cucu.”
Ia menjangkau tangan kananku. Membungkuk. Dan tanganku dicium. Aku tidak berdaya. Bunga itu dipindahkannya di tanganku. Aku menggenggamnya. Seolah dalam mimpi.
Ia menarik tanganku. Dab aku mengikutinya. Di tangan kananku setangkai bunga.. ketika aku sempat menyadari, kulihat pintu pagar rumah itu. Pasti, dialah kakek itu! aku menjerit sekerasnya. Teriakan itu tersumbat di tenggorokan. Aku meronta. Ia memanggilku lebih keras. Tertawa terkekeh. Aku meronta, dan tertawanya serak alangkah kerasnya.
Ibu membawaku pulang. Aku tidak begitu sadar, tiba-tiba ibu sudah menuntun aku. Di rumah kulihat ayah membaca di kursi. Aku merasa tenang. Aku merasa malu.
“Untuk apa teriak-teriak, heh,” kata ayah menyambut.
Ayah mengamati aku dari atas ke bawah. Ia berdiri dan menjangkau tangan kananku. Katanya:
“Untuk apa bunga ini,heh.”
Aku tidak tahu karena apa telah mencintai bunga di tanganku ini.
Ayah meraih. Merenggutnya dari tanganku. Kulihat bungkah otot tangan ayah menggenggam bunga kecil itu. Aku menahan untuk tidak berteriak.
“Laki-laki tidak perlu bunga, Buyung. Kalau perempuan, bolehlah. Tetapi engkau laki-laki.”
Ayah melemparkan bunga itu. Aku menjerit. Ayah pergi. Ibu masih berdiri. Aku membungkuk, mengambil bunga itu, membawanya ke kamar. Tangkai bunga itu patah-patah. Selembar daun bunganya luka. Aku menciumnya, lama, lama sekali.
Malam itu aku tidak mau makan. Ibu masuk kamar dan membujuk.
“Tentu saja kau boleh memelihara bunga. Bagus sekali bungamu itu. itu berwarna violet. Bunga itu anggrek namanya. Aku suka bunga. Kuambil vas, engakau boleh mengisinya dengan air. Dan bunga ini ditaruh di dalamnya. Kamar ini akan berubah jadi kamar yang indah! Setuju?”
Ketika aku bangun pagi, aku merasa telah berteman baik dengan kakek itu. Aku ingat betul: tangan kurus dengan otot menonjol, rambut putih, suara serak. Berangkat sekolah aku lewat di muka pintu pagarnya seperti biasa, tetapi dengan perasaan bersahabat. Kepada pintu pagar itu aku tersenyum, maksudku pada kakek, sahabatku yang baru. Aku merindukannya.
Aku mencari-cari kesempatan untuk bertemu dengan kakek. Pulang sekolah aku memanjat tembok pagar dari sebuah pohon kates. Berjalan mondar-mandir di atasnya. Mengintai rumah tua itu. sesaat aku melihat kakek di dalam rumah itu. dan sungguh tak terduga, ia keluar. Ia berdiri di bawah, dekat tempatku di atas tembok, tersenyum. Ia seorang yang ramah, baik hati, penyayang anak.
“Turunlah, Cucu. Ada sebuah tangga. Tunggulah.”
Aku turun dengan sebuah tangga, untuk pertama kali, di pekarangan rumah sebelah. Kakek tertawa terkekeh. Ia mengelus kepalaku. Meniup dengan mulut di ubunku.”Engkau akan jadi orang, Cucu. Aku yakin. Matamu menunjukan itu!”
Tanganku dibimbing. Kakiku berjalan dengan langkah cepat mengikutinya. Kami duduk di ruang tengah. Ada kursi-kursi di sana. Aku dimintanya duduk di sampingnya.
“Duduklah, Cucu di samping kakek. Nah, siapa namamu?” Aku sebutkan namaku.
Mataku melayang ke sekitar. Semuanya penuh bunga. Aku menatap wajah kakek, kerut-merut kulit tua. Kataku:
“Banyak sekali bunga, Kakek?”
“O, ya. Banyak. Aku suka bunga-bunga.”
“Belum pernah kulihat sebelumnya.”
“Tentu saja. Kenapa tidak sejak dulu datang ke sini?”
“Kenapa tidak kakek datang ke rumahku.” Ia tertawa, mengusap kepalaku.
“Pintar, ya. Kau sering memanjat pagar itu bukan?”
“Ya.” Ternyata kakek mengetahui tingkahku. “Siapa memberitahumu?”
“Mataku, Cucu.”
“Hanya untuk melihat-melihat saja, Kek.” Ia tertawa, terguncang badannya.
“Tentu saja aku tahu. Kau anak baik, Cucu. Karena mata batinku lebih tajam dari mata kepalaku.”
Aku mulai tenteram duduk di sampingnya. Tidak ada lagi yang harus dikhawatirkan. Kami bersahabat baik. Entahlah, rasanya sangat menyenangkan duduk bersamanya di sini. Bayanganku yang lama hilang. Aku merasa kerasan. Agak dingin udara di sini, angin sejuk, bunga-bunga merah, biru, kuning, ungu. Daun-daun hijau. Kumbang terbang antara bunga-bunga. Tanah basah. Daun bergoyang, bayang-bayang matahari. O, ya. Ayam jantan berkeliaran antara bunga-bunga. Berbulu indah ia berlari memburu betina. Di pojok keduanya berhenti. Kakek menarik napas panjang.
“Istriku sudah tidak ada lagi, Cucu. Di sini aku hidup sendiri. Aku punya anak cucu. Tetapi mereka jauh di kota lain. Maukah kau menjadi cucuku, sahabat kecilku?”
Aku mengangguk.
“Jangan khawatir, Cucu. Anggaplah di sini rumahmu. Datanglah ke sini bila kau senggang. Terimalah kakekmu, ya. Kita bisa duduk di sini. Melihat tanaman. Aku punya banyak bunga di sini. Hidup harus penuh dengan bunga-bunga. Bunga tumbuh, tidak peduli hiruk-pikuk dunia. Ia mekar. Memberikan kesegaran, keremajaan, keindahan. Hidup adalah bunga-bunga. Aku dan kau salah satu bunga. Kita adalah dua tangkai anggrek. Bunga indah bagi diri sendiri dan yang memandangnya. Ia setia dengan memberikan keindahan. Ia lahir untuk membuat dunia indah. Tataplah sekuntum bunga, dan dunia akan terkembang dalam keindahan di depan hidungmu. Tersenyumalah seperti bunga. Tersenyumalah, Cucu!” Dan aku tersenyum. Pikiranku melambung jauh, ke sebuah dunia yang asing, penuh rahasia dan mengasyikkan.
Siang itu kami bermain-main diantara bunga-bunga. Kakek bercerita banyak tentang bunga. Satu persatu menguraikan dari mana bibit bunga, memelihara, mengawinkan. Kami asyik sekali. Pengetahuannya tentang bunga sungguh mengagumkan. Bunga-bunga tanaman kakek memenuhi halaman muka, sampai belakang, dan di dalam rumah. Rumah itu adalah taman bunga.
“Rumah ini,” katanya, “sebagian kecil dari sorga.” Sore itu aku pulang dengan bunga-bunga di tangan. Aku kembali lewat pagar tembok. Kakek mengantarku ke tangga, memegangku erat. “Hati-hati, Cucu,” dan ia menepuk pantatku pelan. Di atas pagar aku berdiri, mencium bunga di tangan. Melambai pada kakek lalu menuruni pohon kates. Aku berlari kecil menyembunyikan bunga.
Sampai di pintu, ayahku sudah berdiri di sana. Aku tersadar, hari sudah sore dan lupa mengaji.
“Engkau harus mengaji, tahu. Dari mana?” ayah menegur dengan suara berat dan dingin.
Aku berdiri saja. Ingin aku menyembunyikan setelitinya bunga-bunga di tanganku. Ayah terlanjur melihat. Aku diam. Ayah tidak suka dibantah.
“Kau pergi mencari bunga-bunga itu. Untuk apa, heh.”
Tenggorokanku tersumbat. Aku diam-diam. Tidak berani menatap wajah ayah.
“Dimana dicari?”
Tetapi aku harus menyembunyikan dari mana asal bunga-bungaku.
“Di sungai, Yah,” kataku membohong.
Ayah merampas bungaku. Dan membuangnya ke sampah. Perasaan yang kemarin datang lagi. Aku ingin mengambilnya kembali.
“Engkau mulai cengeng, Buyung. Boleh ke sungai, untuk berenang, bukan mencari bunga.”
Setelah lewat dari pengawasan ayah aku menjemput bunga itu dari sampah, dan kubawa ke kamarku.
Ya, harus berhati-hati dengan ayah. Dengan ibu aku baik-baik saja. Ibuku kurasa sangat senang, aku menjadi kerasan di rumah. Di kamarku selalu terlihat vas dengan bunga-bunga. Ayah belum pernah memerlukan menjenguk kamarku. Itu menyenangkan, ayah terlalu sibuk untuk mencampuri urusanku.
Aku mulai segan bertemu dengan ayah. Seperti ada orang lain dalam rumah bila ayah di rumah. Kehadiran ayah menjadikan aku gelisah. Pasti, ayah akan datang dengan baju bergemuk. Kotor, seluruh badan berlumur minyak hitam. Bungkah-bungkah badan menonjol. Terasa rumah jadi bergetar oleh kedatangan ayah. Kadang kulihat ayah menggosokan tangan kotor itu pada dagu ibu, ibu tersenyum, sementara aku sangat kasihan.
Kalau ayahku pulang, aku cepat ke kamar. Di kamar menatap bunga-bunga sangat lain dengan melihat wajah ayah. Menggelisahkan bila ayah memanggilku. Tetapi bila ia memerlukanku, pastilah aku cepat menghadap, sebab aku selalu tinggal di kamar.
Beberapa hari berlalu. Sejak hari yang malang itu aku berhati-hati. Aku tahu kapan ayah biasanya pulang kerja. Dan waktu itu aku berusaha di rumah. Pergi ke rumah sahabat tuaku yang baik itu harus pada waktu setepatnya. Kukira ayah ibu tidak mengetahui tingkah lakuku. Satu kali ayah memanggilku. Aku keluar dari kamar.
“Dari mana?” ia bertanya.
“Di rumah, di kamar.”
“Untuk apa di kamar, heh. Laki-laki mesti di luar kamar!”
Ayah menyuruh ibu, supaya aku disuruhnya bermain di luar. “Engkau mesti memilih permainan yang baik,” kata ibuku. “Ayahmu menyuruhmu main bola. Atau berenang. Kalau tidak mau, kau akan dibawanya ke bengkel.” Dan beberapa hari kemudian, sebuah bola kaki dari kulit yang bagus tersedia di rumahku. Ayahku menyediakan pula sebuah alat olah raga. Ayah memberi contoh bagaimana memakainya. Tetapi mengangkatnya saja aku tidak berdaya.
Bagiku sungguh enak tinggal di kamar. Kawan-kawan datang mengajakku bermain. Tetapi aku menolak. Permainan hanya bagi kanak-kanak. Apakah yang lebih menyenangkan dari pada bunga dalam vas?
Sahabatku yang terdekat ialah kakek. Kami banyak bertukar pikiran. Sungguh ia orang tua yang pandai. Pasti aku mengunjunginya setiap hari. Bagiku tidak ada kewajiban lain yang mengikat kecuali ke sekolah dan mengaji. Selebihnya untuk kami berdua, aku dan sahabat tuaku. Ayah ibu akan memarahi aku apabila aku melupakan sekolah atau mengaji. Ayahku akan memanggil aku. Disuruhnya aku menyaksikan wajahnya. Sebuah neraka terlintas dalam kepalaku bila Ayah marah. Pada kakek lain sekali. Orang tua itu hanya dapat tersenyum. Ia jauh lebih baik hati daripada ayah. Ia, katanya selalu, memandang dunia dengan senyum di bibir dan ketenangan jiwa.
Suatu hari aku ke sana. Hari itu siang. Aku duduk di ruang depan seperti biasa. Ada sebuah jamban dengan bunga di dalamnya. Bunga-bunga mengapung di atas air bening. Jambangan itu sangat bagus. Seperti dari kaca dengan ukiran. Diletakkan pada sebuah meja rendah dengan empat kaki. Kakek menatap bunga-bunga itu katanya:
“Katakanlah, Cucu. Apakah yang lebih baik dari ketenangan jiwa?”
“Tidak ada, kakek,” kataku, keluar begitu saja dari kesadaranku. “Tidak ada yang lebih dari itu.”
“Bagus. Tidak kusangka kau akan sepandai ini, Cucu.” Ia menepuk pundakku. Kemudian membenarkan letak duduknya dan kembali menatap bunga-bunga itu.
“Segalanya mengendap. Cobalah lihat, cucu. Bunga-bunga di atas air ini melambangkan ketentraman, ketenangan dan keteguhan jiwa. Di luar matahari membakar. Hilir-mudik kendaraan. Orang berjalan ke sana kemari memburu waktu. Pabrik-pabrik berdentang. Mesin berputar. Di pasar orang bertengkar tentang harga. Tukang copet memainkan tangannya. Pemimpin meneriakan semboyan kosong. Anak-anak bertengkar merebut layang-layang. Apakah artinya semua itu, Cucu? Mereka semua menipu diri. Hidup ditemukan dalam ketenangan. Bukan dalam hiruk-pikuk dunia. Tataplah bunga-bunga di atas air itu. hawa dingin menyejuk hatimu. Engkau menemukan dirimu. Engkau akan tahu, siapakah dirimu. Katakanlah, apakah yang lebih baik dari ketenangan jiwa dan keteguhan batin, Cucu.”
Aku mendengarkan sebaik-baiknya. Ia mengatur nafas. Lalu berdiri.
“Nah, sudah sampai waktunya kita jalan-jalan!” Kami berjalan. Menerobos pohon-pohon bunga. Pada setiap bunga kakek menjentik, tertawa. “Bagus. Bagus sekali bukan, cucu?” Aku tersenyum. “Ya, dunia ini indah seperti bunga mekar. Membuat dunia tenang. Ini dunia kita!”
Siang itu aku pulang dengan bunga-bunga di tangan. Menaiki tangga, meloncati pagar tembok. Sampai di rumah aku mengambil sebuah panci dari dapur ibu, memasukkan air sebanyak-banyaknya. Hati-hati kubawa ke kamar. Kutaruh di kamarku, dekat pintu. Bunga mawar kutaruh di atas air. Bunga itu mengambang di atas air. Bayang-bayang melekat di dalam air. Sebagian bunga itu tercelup dalam air, menimbulkan lekuk di permukaanya. Warna merah di atas bening air! Air itu bening dan tenang. Dan bunga-bunga itu! Matamu tak akan terpejam menatapnya! Aku duduk di kursi. Sebuah kesejukan yang lambat-lambat masuk dalam jiwaku. Aku berdamai dengan kehidupan. Apa yang lebih baik dari ketenangan jiwa dan keteguhan batin? Sungguh bersyukur, berkenalan dengan kakek itu.
Ibu masuk ke kamarku. Panci itu di muka pintu, tidak luput dari pandangannya.
“Makanlah,” katanya. “Tetapi apakah artinya ini?” Ia memandang pada panci dan bunga itu.
Aku menarik nafas panjang. Duduk di atas kursi. Kataku sabar:
“Ibu. Katakanlah. Apa yang lebih baik dari ketenangan jiwa dan keteguhan batin?”
Ibu berdiri kaku. Memandangku seperti bukan anaknya. Mataku ditatapnya denagan dalam-dalam. Aku tahu. Ibuku terkejut. Kelakuanku bagi ibu adalah sesuatu yang baru. Tentu saja, karena ibu datang dari dunia hiruk-pikuk. Ia memandang seperti tidak mengenal. Mengamati aku penuh perhatian. Aku adalah manusia baru. Ibu memanggil namaku. Aku menjawabnya dengan sopan. Ia memanggil lagi. Dan aku menjawab sebaik-baiknya. Kemudian ibu pun pergi. Masih sempat kulihat: mata ibu merah seperti menangis. Kukira ibu sedang sedih. Kenapa harus sedih? Aku mengikutinya. Ibu duduk dekat tungku dapur dengan muka menunduk. Pasti ia sedih, untuk apa bersedih, ibu? Aku mendekat, kataku:
“Ibu kenapa sedih? Tersenyumlah. Hidup adalah permainan.” Ibu diam. “Engkau bisa sengsara. Tetapi sadarlah, hidup adalah permainan. Ketahuilah, sesungguhnya.” Aku berhenti bicara. Ibu memutar badannya. Katanya memerintah:
“Pergi ke kamar, kataku!”
Aku pun pergi ke kamar. Menanti hari sore. O, ya. Sore hari itu aku pergi mengaji ke masjid. Tidak lupa aku membawa sekuntum melati di saku. Itu mententramkan jiwa. Setiap kali aku dapat mengeluarkannya dan mencium sepuasku. Pengajian itu bernama Al Ma’aruf, artinya kebaikan. Mereka belajar mejadi baik. Tetapi sebutlah, siapa di antara mereka mempunyai ke tenangan jiwa dan keteguhan batin? Tidak seorang pun, kecuali aku. Sore itu aku duduk di serambi masjid. Siapakah orangnya yang bisa tersenyum melihat anak-anak memperebutkan kelereng dalam permainan? Aku melihat keasyikan itu, anak-anak yang didorong oleh nafsu. Aku tersenyum dalam ketenangan. Jiwaku dikuasai oleh ketenangan batin yang mengasyikan. Tidak ada niatku untuk bermain. Lebih baik duduk tenang, tersenyum memandang hiruk-pikuk dunia.
Ketika aku pulang mengaji, lantai di kamarku penuh air. Dan bunga-bunga itu! Bunga-bunga itu melengket pada ubin dengan basahan air yang merata. Ternyata air itu tumpah. Tiba-tiba ayah memegang kudukku.
“Untuk apa bunga-bunga ini, Buyung?”
Di depan ayahku, aku tak bisa apa-apa. Tangannya yang kasar, penuh nafsu untuk menghancurkan, memegang pundakku. Aku bungkam.
“Ayo, buang jauh-jauh bunga-bunga itu, heh!” Aku membungkuk, memungut bunga-bunga. Dari mataku keluar air mata. Aku menangis, bukan karena takut ayah. Tetapi bunga-bunga itu! Aku harus membuangnya jauh-jauh dengan tanganku! Bunga-bunga itu penuh di tanganku.
“Mana.”
Aku mengulurkan pada ayah. Diremasnya bunga-bunga itu. Jantungku tersirap, menahan untuk tenang.
“Dan bersihkan air ini sampai kering, Buyung.”
Aku baru bebas dari raksasa itu ketika sudah habis mengeringkan lantai.
Sesudah membersihkan kamar, aku meloncati pagar, lalu menangis di pangkuan kakek. Ia mengusap kepalaku. Sahabat tuaku sangat baik padaku.
“Cup, Cucu. Diamlah,” katanya. “Jangan lagi menangis. Kalau nafsu mengalahkan budi, orang tidak mendapatkan ketenangan jiwa. Perbuatannya menjadi kasar, karena dorongan nafsu. Perbuatan itu menimbulkan kesengsaraan. Dunia rusak oleh nafsu. Tenanglah.”Aku mulai meredakan tangisku.
“Menangis adalah cara yang sesat untuk meredakan kesengsaraan. Kenapa tidak tersenyum, Cucu. Tersenyumlah. Bahkan sesaat sebelum seseorang membunuhmu. Ketenangan jiwa dan keteguhan batin mengalahkan penderitaan, menglahkan, bahkan kematian.
Aku sadar menangis ialah kesia-siaan. Aku tersenyum. Kakek menghapus air mata dari kulit-kulit mukaku. Saputangannya semerbak wangi bunga. Aku menghirup sekuatnya wewangi itu. dan, habislah penderitaanku.
“Kalau jiwamu tenang, perbuatanmu sopan. Kalau jiwamu gelisah, perbuatanmu kasar,” kakek mencium ubun-ubunku.
Aku segera pulang. Pastilah ayah akan menghukum bila tahu aku meloncat ke rumah sebelah. Aku kembali ke kamar melalui jendela. Menutup pintu rapat-rapat. Ayah tidak akan banyak tahu apa yang kukerjakan. Sampai sore ia di bengkel. Malam hari sehabis makan, ada saja kerjaanya. Atau tidur. Hanya ibu di rumah, dan ia lebih halus daripada ayah. Tidak usah cemas menghadapi Ibu.
Tampaknya ibu sangat senang padaku, karena aku mulai bertingkah halus. Kamarku selalu bersih.
Tersedia bunga-bunga. Setidaknya dengan usaha keras agar ayah tidak sempat melihat. Aku sudah punya jambangan bunga sendiri. Tidak menggangu lagi alat rumah tangga ibuku. Tempat tidurku rapi. Mesuklah ke kamarku, kapan saja. Bau harum bunga. Dan matamu takkan puas-puasnya menikmati warna indah bunga-bunga.
Aku baru di dalam kamar, pada suatu siang, ketika ibu dengan tergesa masuk. Ibu berkata dengan gugup:
“Keluarlah cepat. Peganglah apa saja. Apa atau apa. Cepatlah.”
Aku tidak tahu maksud ibuku. Terpaku saja. Dan dia di depanku telah berdiri ayah dengan baju kotor. Tubuh berlumuran gemuk. Bau anyir minyak memenuhi kamar. Sebuah mobil menderu di jalan, berhenti di muka pagar pintu rumahku.
“Buyung, coba mana tanganmu? Keduanya!”
Aku mengulurkan tanganku. Putih bersih. Lambang ketenangan batin dan keteguhan jiwa. Sayang, ayah menangkap tanganku. Kulihat saat gemuk mengotori telapak tanganku.
“Tanganmu mesti kotor seperti tangan bapamu, heh!”
Ayah meratakan gemuk di tangannya pada tanganku. Aku tidak melawan. Ayahku adalah nafsu. Aku tersenyum. Ibu berdiri saja, ia tidak berbuat apapun. Aku makin lebar tersenyum. Kulihat ibuku pucat ketika memandangku. Kenapa ibu pucat begitu, tersenyumlah!
Tanganku kotor sampai lengan. Ayah menampar kedua pipiku katanya, “Untuk apa tangan ini, heh,” ia mengangkat kedua tanganku dengan kedua tangannya. Aku tidak tahu, jadi diam saja.
“Untuk kerja! Engkau laki-laki. Engkau seorang laki-laki. Engakau mesti kerja. Engkau bukan iblis atau malaikat, Buyung. Ayo, timba air banyak-banyak. Cuci tanganmu untuk kotor kembali oleh kerja. Tahu!”
Kulihat kembali tanganku, kotor. Ayah pergi dengan mobil yang di depan itu. ibuku menatapku, sementara aku belum menyadari apa yang terjadi, katanya, “Turutlah ayahmu, Nak.”
Aku suka kebersihan. Mencuci tangan adalah baik. Aku lari ke sumur. Terbayang: ayahku, kakek, ibuku.
Aku membawa sebagian air ke kamar, untuk jambangan bungaku.
Ayahku membawa alat-alat bengkel ke rumah. Di pelataran rumahku dipasang sebuah gubuk. Alat-alat itu ditaruh di sana. Ayah mulai pulang pada siang hari. Sehabis makan ia bekerja di bengkel muka rumah, memukul-mukul besi. Seperti dalam bengkel, rumahku menjadi gaduh. Kawan-kawan ayah membantunya, lalu ramailah seluruh rumahku dengan pukulan-pukulan besi. Sekali ayah membawa dinamo dan dung-dung-dung mesin itu memenuhi udara.
Sekali –kali ayah memerintah padaku.
“Buyung. Berdiri kau di situ. Lihatlah mereka yang membantu dunia.” Aku akan berdiri, mengawasi kesibukan. Keringat. Gemuk. Tangan berotot. Baju kotor. Gemuruh besi. Telingaku bising. Kubayangkan: orang yang gelisah dalam hidupnya.
Pada kesempatan yang tak terlihat oleh ayahku aku akan lari ke kamar, menutup pintu menatap bunga-bungaku. Lupalah aku, di luar orang berkeringat. Kesibukan itu sungguh memuakan. Kalau aku masih terganggu di kamar, aku akan melompat lewat jendela. Menuju ke pagar. Dan kukatakan pada kakek, “Dengar hiruk-pikuk itu, Kakek?”
“Jangan hiraukan, Cucu. Biarlah orang gelisah. Engkau dan kau di sini. Dikelilingi bunga-bunga. Dua buah cahaya menyala dalam kepekatan malam.” Waktu itu siang hari. Barangkali kakek salah menyebut. Kataku:
“Tetapi, apakah malam hari, Kek?”
“Segala nafsu adalah malam yang gelap.”
“Ya. Dan perbuatan kita mencerminkan ketenangan jiwa.”
“Dan keteguhan batin!” aku segera menyahut.
Kami menyusuri kebun bunga. Hiruk-pikuk di rumahku terdengar pula dari sini. Tetapi kata kakek “Tidak terdengar oleh telinga batin kami.”
Ternyata ayah mengetahui tingkahku. Jambangan bunga pecah. Bunga bercecer. Air mengalir ke seluruh kamar. Aku tersenyum menyaksikan semuanya. Ayahku sudah berdiri dekat.
“Akulah yang memecahkan, Buyung. Untuk apa, heh? Manusia tidak bisa hidup dengan hanya bunga.”
“Ke sini!” Aku menurut dengan ketenangan yang mengagumkan aku sendiri. Ayah memerintah: Engkau harus berdiri di sini. Aku akan membuat sebuah sekrup. Lihatlah. Dan besok kau harus mengerjakan sendiri. Awaslah, kalau tidak bisa.” Aku mengawasi. Masuk ke dalam kepalaku apa yang kulihat. Ayah tahu. Ia menatapku.
“Apa yang kau pikirkan, heh?”
Aku harus berani mengatakan sesuatu. Bahkan pada ayahku. Jadi kukatakan dengan tergagap:
“Ayah. Sesungguhnya tidak ada yang lebih baik dari ketenangan jiwa dan….”
“Diam! Untuk apa, heh? Ayo, pegang palu ini!” Ia menyodorkan palu. “Pukulah besi ini sampai menjadi kepingan tipis. Kerjakan.” Aku mengalah. Palu kupegang. Dan sesore keringatku bercucuran. Tanganku bengkak. Aku terus bekerja, takut pada ayah. Sore hari ayah menyuruhku berhenti. Ibu menyambutku dengan ramah.
“Jangan membantah ayahmu, Nak. Cepatlah mandi. Ah, hampir lupa. Engkau harus mengaji.”
Ayah ialah sebangsa laki-laki kasar. Ia menyita seluruh waktuku. Aku mengunjungi kakek pagi saja sebelum sekolah. Dan itu hanyalah sebentar. Ketika itu kakek sedang menyiram bunga.
Aku menegur.
“Sedang apa, Kak?”
“Menyiram kehidupan, Cucu,” ia menoleh padaku. “Engkau banyak pekerjaan sekarang, Cucu?” Aku mengangguk.
Terlintas dalam kepalaku untuk bertanya sesuatu,
“Apa kerja kakek sebenarnya?”
Kakek berhenti. Mengawasi aku, katanya:
“Sekarang menyiram bunga, Cucu.”
“Ya. Tetapi apa sebenarnya kerja kakek?”
“Pekerjaanku, Cucu,” ia berhenti. “O, ya. Mencari hidup yang sempurna.”
“Di mana dicari, Kek?”
“Dalam ketenangan jiwa.”
“Ya, di mana?”
“Di sini. Dalam bunga-bunga.”
Aku teringat, harus ke sekolah. Cepat minta diri.
Pulang sekolah, ayah menyuruhku kerja di bengkel. Ia tidak membiarkan aku berhenti sekejap pun. Ia akan menegur setiap kali melihatku berhenti. “Bekerjalah. Jangan biarkan tanganmu menganggur, Buyung.” Aku teringat pada kakek.
“Ayah,” aku bertanya, “Kenapa tidak mencari hidup sempurna?” Ayah berhenti. Menatap aku. Ia melihat mataku.
“Ya,” katanya. “Aku mencari itu, Buyung.”
“Di mana dicari, Yah?”
“Dalam kerja.”
“Ya. Tetapi di mana?”
“Di bengkel, tentu.”
Ia berdiri kukuh. Dengan wajah membakar. Aku teringat sebuah lokomotif hitam berdiri kuat di atas rel. Menderu dengan gerbong berdert di belakangnya.
“Engkau mesti bekerja. Sungai perlu jembatan. Tanur untuk meluknakan besi perlu didirikan. Terowongan mesti digali. Dan dibangun. Gedung didirikan. Sungai dialirkan. Tanah tandus disuburkan. Mesti, mesti, Buyung. Lihatlah tanganmu!” Ayah meraih tanganku.
“Untuk apa tangan ini, heh?” Aku berpikir sebentar.
“Kerja!” kataku.
Ayah tertawa gelak. Mencium tanganku. Ia menampar pipiku keras. Mengguncang tubuhku. Kulihat wajah hitam bergemuk itu memancarkan kesegaran. Aku menyaksikan seorang laki-laki perkasa di mukaku. Menciumi aku. Ia adalah ayahku.
Malam hari aku pergi tidur dengan kenangan-kenangan di kepala. Kakek ketenangan jiwa-kebun bunga, ayah kerja bengkel, ibu mengaji-mesjid. Terasa aku harus memutuskan sesuatu. Sampai jauh malam aku baru tertidur.
Bagaimanapun, aku adalah anak ayah dan ibuku.

Sumber:
Dilarang mencintai bunga-bunga, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1992.